Aisyah dan Tiga Rembulan

    144

    PPP.OR.ID – “Aku bermimpi tiga rembulan jatuh dikamarku,” kata Aisyah kepada Abu Bakar ayahnya.

    Abu Bakar tersenyum, lalu berkata, “Jika mimpimu itu benar maka akan ada tiga orang terbaik dari penduduk bumi yang akan dimakamkan dirumahmu.”

    Aisyah terdiaM. Dia memikirkan mimpi dan ucapan ayahnya. Hingga waktu berlalu dan pada saat suaminya, Rasulullah SAW wafat, dia kembali teringat dengan mimpinya.

    “Dia adalah salah satu rembulanmu itu. Dia adalah yang paling baik,” ucap ayahnya.

    Ya, Rasulullah adalah rembulan terbaik. Aisyah berharap juga menjadi rembulan. Dia ingin dimakamkan disamping suaminya.

    Rembulan kedua yang terbaring didalam rumahnyaternyata dalah Abu Bakar, ayahnya. Sahabat setia Rasulullah yang selalu membelanya. Aisyah ikhlas melepas kepergian dua orang yang sangat dicintainya.

    Kini, dia semakin berharap rembulan ketiga adalah dirinya. Dia ingin dikuburkan disisi suami dan ayahnya.

    Beberapa tahun kemudian, Umar bin Khatab sakit. Sebelum meninggal, Umar mengutus Abdullah, putranya untuk menemui Aisyah. Bergegas Aisyah menemui Aisyah.

    “Ayahku menyampaikan salam dan meminta izin untuk dimakamkan bersama kedua sahabatnya,” kata Abdullah menyampaikan pesan Umar.

    Aisyah diam. Dia menatap makam dua orang yang dicintainya.

    “Sebenarnya, aku ingin menggunakan tempat itu untuk megubur jasadku kelak,” kata Aisyah pelan. “Tapi, hari ini aku ikhlas menyerahkan tempat itu untuk Umar.”

    Setelah tiga orang itu dimakamkan didalam rumahnya, Aisyah tidak pernah lagi membuka jilbabnya, meski tidak ada seorangpun bersamanya.

    “Saat suami dan ayahku dimakamkan disini, aku berkata dalam hati, “tidak perlu malu. Disini hanya ada ayah dan suamiku sendiri.”

    “Tapi,” lanjutnya, “saat Umar jugadimakamkan disini, demi Allah aku malu membuka auratku. . (Sumber : Asmayani, Nurul “45 Bidadari Surga/tran)