Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Inilah Wawancara Eksklusif dengan Ketua Umum PPP M. Romahurmuziy

04 Juni 2018 - 14:34:46 | 371

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Tampaknya tak cuma sosok calon presiden yang menarik perhatian. Kandidat wakilnya pun jadi sorotan, karena menentukan tingkat keterpilihan nantinya. Salah satu kandidat wakil presiden itu adalah Romahurmuziy, yang digadang-gadang mendampingi Joko Widodo (Jokowi).

Sosok Rommy, panggilannya, memang terus muncul belakangan. Apalagi ia pernah mensyaratkan sosok yang cocok untuk pendamping Jokowi, yakni harus berasal dari kaum intelektual dan santri. Alasannya republik ini dibangun atas dua kelompok: kebangsaan dan agama.

"Jadi narasi besar kita itu ya nasionalis dan agamis," kata Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan itu saat wawancara dengan Fajar WH, Heru Triyono, Sorta Tobing dan fotografer Bismo Agung, di rumahnya, kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Jumat sore (27/4/2018).

Kami diterima di ruang tamu yang berlantai tegel cap kunci oleh si pemilik rumah. Pria berusia 43 itu tampil sederhana, kemeja lengan pendek dan jin. Berbeda dengan sosoknya di baliho, yang banyak bertebaran di jalan. Di baliho itu ia memakai koko dan menyelempangkan sorban di pundak.

Menurut Romahurmuziy pemasangan baliho itu atas permintaan Jokowi. Tujuannya agar popularitas PPP dan ketua umumnya, sebagai pendukung pemerintah, juga bisa naik.

Spekulasi muncul. Romahurmuziy dianggap tak sekadar ingin perkenalkan diri sebagai ketua partai lewat baliho, tapi juga dianggap genit. Sikapnya kemudian dikait-kaitkan dengan bursa calon wakil presiden untuk Jokowi yang masih misteri. Romahurmuziy pun segera menampik. "Politik PPP itu tak mengharap imbalan," katanya.

Memang, selain kerap tampil di baliho, Romahurmziy sering berdampingan dengan Jokowi dalam pelbagai acara. Mulai dari peresmian lapangan tenis sampai haul di sebuah pesantren. Tak henti di situ, kini Romahurmuziy berani pasang badan menghadapi isu-isu politik yang menyerang Jokowi.

Mulai dari isu pengungkapan siapa dalang di belakang Obor Rakyat hingga isu partai Allah vs partai setan dari Amien Rais. Semua Rommy hadapi dengan ciamik.

Romahurmuziy menjawab banyak hal terkait isu Pilpres, khususnya tentang cawapres pendamping petahana. Berikut perbincangannya:

 

Semakin banyak ya baliho Anda di mana-mana?

Awalnya saya enggak mau, risih. Enggak enak saja wajah sendiri dipajang. Tapi saya diyakinkan berkali-kali oleh Presiden untuk tampil.

 

Jadi penampilan Anda di baliho dalam rangka akomodasi kepentingan Presiden?

Presiden kan memang punya kepentingan di koalisinya. Beliau ingin semua partai koalisinya besar.

Salah satu cara besarkan partai itu kan ada tiga komponen: kultur, struktur dan figur. Nah figur ini dianggap penting oleh Presiden.

 

Artinya PPP belum jadi partai besar dan belum memiliki figur?

Kasarnya, siapapun ketua umum dan pengurusnya, baseline PPP ya 6,5 persen suara.

Makanya, untuk mengejar waktu yang pendek, Presiden minta saya lihat demografi masyarakat, yang kebanyakan lulusan sekolah dasar. Nah cara instan untuk besarkan partai ya lewat figur.

 

Asumsinya apa?

Lulusan SD ini tidak lihat partai, lihatnya figur. Istilahnya adalah personalisasi politik. Jadi politik itu semakin personal, semakin melekat pada sosok Jokowi, Romahurmuziy, SBY dan sosok lain.

 

Partai jadi enggak penting lagi?

Karena orang yang nyoblos dengan melihat pribadi itu makin besar angkanya. Makanya fenomena kutu loncat tidak lagi dipersoalkan.

Misalnya Akbar Faizal, yang tiga kali Pemilu dengan tiga partai berbeda, tapi bisa terpilih terus. Artinya enggak masalah dia pindah partai, karena pengikutnya tetap memilih Akbar.

Dari isu personalisasi politik ini saya diyakinkan Presiden untuk pasang baliho. Beliau yakin akan ada dampaknya untuk PPP dan diri saya. Saya mulai memasang baliho Januari silam.

 

Pemasangan foto di baliho itu efektif mendongkrak nama Anda?

Belum tahu. Tapi nama saya mulai muncul meskipun kecil. Sebelum pasang baliho itu popularitas saya 21 persen. Sesudah pemasangan saya belum survei lagi, tapi kata teman-teman angkanya naik.

 

Kenapa figurnya Anda, bukankah di PPP ada nama lain yang populer, misalnya Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin?

Sebenarnya sempat terpikir Pak Menag, karena lebih mudah juga diterima masyarakat, apalagi popularitas beliau tinggi.

Saya pun akui saya masih muda, jabatan publik hanya DPR, dan ada sisa konflik PPP pada sosok saya. Tapi Pak Lukmannya tidak mau. Akhirnya diputuskan saya, karena tidak ada figur lain. Ya hal ini juga dibicarakan dengan Presiden.

 

Presiden konsern sekali dengan Anda?

Bahkan saya harus lapor perkembangan baliho ke beliau. Saya dikasih masukan agar tidak pakai nama Gus di baliho. Karena panggilan gus hanya untuk orang NU dan membatasi segmen. Kalau di kota agak susah diterima.

Saya juga disarankan enggak usah pakai panggilan Rommy karena tidak sesuai nama panjang. Antara Romahurmuziy dan Rommy itu menurutnya jauh dan dikira orang adalah sosok berbeda.

Ketiga saya diminta ganti style berpakaian. Pak Jokowi ingin saya tercitrakan sebagai santri dan lebih milenial.

 

Detail itu benar-benar dipantau Jokowi ya?

Iya.

 

Perlakuan seperti ini juga diterima pimpinan partai koalisi lainnya?

Tidak tahu. Saya merasa Pak Jokowi amat sayang kepada saya, seperti kakak adik.

 

Tapi sampai dandanan dievaluasi Presiden, Anda nyaman diperlakukan seperti itu?

Nyaman sih. Segmen milenial itu kan unik ya, mereka itu apolitik. Jadi mereka hanya bisa didekati simbol-simbol yang satu generasi dengan mereka, yang dikenal, yang kekinian.

 

Sebelumnya Anda memang dekat ya dengan Jokowi?

Saya kenal beliau sejak 2005, waktu staf khusus Menteri Koperasi Suryadharma Ali. Ketika itu beliau adalah Wali Kota yang sedang memiliki misi pindahkan sebuah pasar di Solo--ke lokasi yang lebih baik.

Nah saya ditugasi Pak Surya untuk asistensi Pak Jokowi dalam proses pencairan anggaran pembangunan pasarnya.

 

Meski kenal lama tapi Anda hampir tak pernah dukung Jokowi secara politik ?

Kami memang selalu berhadapan. Mulai 2005, 2010, Pilgub DKI 2012, hingga Pilpres 2014, kita selalu berhadapan. Waktu Pilgub DKI kita enggak mendukung beliau karena Pak Surya kan dekat sama Foke, sehingga kita all out untuk petahana ketika itu.

Pada Pilpres 2014 juga terganjal hubungan Pak Surya dan Bu Mega yang punya masa lalu tidak enak di Pilpres 2009, yang membuat peluang kami untuk mendukung Jokowi tertutup. Partai kami heboh waktu itu karena di tingkat wilayah sebenarnya minta Jokowi yang didukung. Tapi kami akhirnya mendukung Prabowo.

 

Apakah ada resistansi dari internal partai ketika Anda dukung Jokowi, karena sebelumnya kan PPP mendukung Prabowo ?

Kalau itu jawabannya kuantitatif saja. Survei menunjukkan anggota PPP yang dukung Jokowi itu sebesar 54 persen, enggak jauh dari Nasdem di angka 56 persen. Kalau PDIP mencapai 92 persen.

Kemudian anggota PPP yang mendukung Prabowo itu di angka 18 persen. Artinya kalau dari sisi kuantitatif, pilihan PPP ini tidak salah karena sudah sesuai dengan mayoritas konstituen kita.

 

Benar tidak sih ada dorongan dari partai koalisi untuk jadikan Prabowo wakil Jokowi ?

Presiden sendiri sempat minta pendapat saya soal sosok Prabowo untuk dijadikan pendampingnya. Pertanyaan itu Pak Jokowi sampaikan di Istana Bogor November silam.

Ketika itu saya jawab setuju banget dan saya tanya balik ke Presiden soal siapa yang memiliki inisiatif itu. Beliau enggak menjawab dan bilang enggak penting inisiatif siapa, yang jelas wacana itu untuk kebaikan Indonesia.

 

Bagaimana perkembangan wacana itu saat ini ?

Ketika terakhir bertemu, Presiden sampaikan bahwa agak sulit diteruskan. Nyatanya ketua umum yang setuju dengan wacana itu hanya saya. Dan, pekerjaan rumah selanjutnya adalah mencari calon wakil yang lain. Begitu Presiden bilang.

Waktu itu saya tidak sodorkan nama untuk wakil, tapi kriteria. Kalau berangkat dari nama, saya khawatir semua partai akan beda.

Kriterianya itu harus dari santri--yang didasari tiga pertimbangan. Satu demi NKRI, dua demi kemenangan koalisi, tiga demi PPP. Tidak mungkin kan saya tidak punya kepentingan dalam pencalonan wakil presiden.

 

Menurut PPP, kenapa pendamping Jokowi harus dari kalangan santri ?

Karena republik ini dibangun atas dua kelompok, yaitu kebangsaan dan agama. Jadi narasi besar kita itu nasionalis dan agamis. Karena Pak Jokowi sudah mewakili kelompok nasionalis, sepatutnya si wakil itu agamis. Ini sudah pakem.

Lihat saja bagaimana Bung Karno, yang nasionalis, memilih Bung Hatta yang merupakan putra mursyid thoriqoh dari Payakumbuh. Namanya Kiai Muhammad Jamin. Artinya Bung Hatta dibesarkan dari tradisi agama yang sangat kuat sampai SMA.

Kombinasi ini ada pada pasangan Gus Dur dan Bu Mega, Bu Mega dan Pak Hamzah, dan Pak SBY dengan Pak JK. Sekali-kalinya pakem itu ditabrak oleh Pak SBY, mohon maaf saja saya guyon-guyon lho ini, kena tulah kasus Bank Century. Boleh percaya boleh tidak.

Kalau Jokowi berdampingan dengan Prabowo bisa kena tulah juga dong?

Ha-ha-ha itu pengecualian ya.

 

Opsi untuk dua tokoh itu masih terbuka?

Demokrasi masih membuka semua opsi. Saya tapi enggak ngerti dari pihak Prabowonya.

 

Peluangnya besar atau kecil untuk menyandingkan keduanya?

Sulit ya membayangkan mereka berdua bersatu karena yang diminta terlalu besar. Jadi agak sulit, kecuali konsensi politik yang diminta enggak sebesar itu, mungkin masih diterima.

Benar enggak sih info soal keinginan Prabowo yang meminta tujuh menteri dan memegang militer sebagai syarat?

Saya tanya sama Sandiaga dan dia bilang benar. Bahkan Sandiaga menitipkan pesan untuk Jokowi lewat saya dengan kata-kata ini; "chief, kasih tahu babe dong jangan buru-buru ditutup opsinya". Begitu.

 

Kira-kira Jokowi berkenan memenuhi permintaan Prabowo itu?

Jangan hanya bicara Jokowi, partai-partai koalisinya mau apa tidak. Kalau pertimbangan pribadi saja mungkin bisa, tapi kalau partai-partai rasanya berat. PDIP yang menang Pemilu saja hanya dapat jatah empat menteri.

 

Tapi kan peluang menangnya besar jika diduetkan dengan Prabowo?

Kalau dari sisi itu iya, tapi kalau konsesi yang diminta terlalu besar, itu jadi problem.

 

Idealnya berapa menteri untuk kubu Prabowo?

Kalau empat masih masuk akal.

Sebenarnya kalau dari Jokowi, dia ingin pendamping yang seperti apa?

Beliau pernah sampaikan dia lebih tertarik dengan santri muda dari NU (Nahdlatul Ulama). Kenapa NU? Karena NU organisasi Islam moderat terbesar. Beliau ingin santri muda NU yang diterima Muhammadiyah dan semua ormas Islam.

Kalau soal mudanya, dasar Pak Jokowi adalah data. Data itu menunjukkan bahwa 39 persen pemilih nantinya itu 40 tahun ke bawah. Jumlah itu signifikan.

 

Susah dong kriteria dari Jokowi ini?

Iya, karena cari anak muda NU yang diterima sama seluruh NU saja susah, apalagi cari anak muda NU yang diterima NU dan Muhammadiyah juga, plus ormas yang lain. Namanya anak muda kan baru meniti karier intelektual, jadi belum tentu bisa diterima semua kalangan.

 

Kenapa Jokowi enggak merujuk Anda saja langsung?

Enggak. Saya enggak pernah melihat beliau menawarkan juga.

 

Syarat yang disampaikan Jokowi itu bukan kode ya?

Saya enggak tahu itu kode atau bukan, yang jelas alasan beliau objektif. Saya juga enggak mau GR dengan kode Jokowi. Saya justru menawarkan nama ke beliau tapi ya secara usia sudah tua. Tapi nama ini akan diterima semua kalangan.

 

Siapa dia?

Ya Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin. Terus beliau bilang waduh. Pak Jokowi memandang Kiai Ma'ruf ya benar-benar tua he-he.

 

Tapi nama Ma'ruf Amin jadi pertimbangan Jokowi?

Saya tidak tahu. Setelah itu soalnya kita bicara ringan dan mencoba menyusun nama-nama anak muda yang saya tidak bisa sampaikan. Yang pasti beliau tidak ada like dan dislike terhadap profil seseorang. Nah akhirnya pada kesimpulan, saya diminta untuk lebih banyak tampil, termasuk di baliho.

 

Permintaan baliho itu bukannya salah satu kode keras?

Kalau orang GR akan anggap itu kode. Kalau saya sih anggapnya dorongan Pak Jokowi saja untuk membesarkan partai-partai yang ada di koalisi.

 

Kok Anda sepertinya malu-malu, enggak seperti Cak Imin he-he...??

Oh begini, satu-satunya yang cawapres itu cuma dia. Jadi bukan saya yang malu-malu. Justru dia yang malu-malu. Wong satu-satunya cuma dia kok, ya jangan dikontestasikan dengan saya.