Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Abdurrahman ad-Dakhil, Penakhluk Andalusia

08 Mei 2017 - 19:13:16 | 809

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

Abdurrahman ad-Dakhil dikenal sebagai penakhluk dan peletak dasar atau pendiri Dinasti Bani Umayyah II di Andalusia (nama Spanyol waktu itu). Abdurrahman ad-Dakhil adalah cucu dari Khalifah Hisyam bin Abdul Malik al-Umawi. Ketika dia berusia 19 tahun dan Daulah Abbasiyah berdiri, terjadi pembantaian besar-besaran terhadap bani Umayyah. Termasuk Abdurrahman bin Muawiyah bin Hisyam ad-Dakhil menjadi sasaran. Abdurrahman ad-Dhakil berhasil melarikan diri.

Dalam pelariannya Abdurrahman ad-Dakhi mengembarakurang lebih berlangsung selama lima tahun. Mulai dari mengarungi gurun Syiria menuju Palestina. Kemudian menuju Mesir, Afrika Utara dan akhirnya sampai di Spanyol, dimana dia mendapatkan gelar ad-Dhakil. Selama dalam pelarian itu, dia menyaksikan dua orang saudaranya dibunuh di hadapannya. Dia berhasil menjadi penguasa setelah mengalahkan Yusuf al-Fihri, gubernur Andalusia.

Sejak umat Islam masuk ke Andalusia pada tahun 92 H hingga masuknya ad-Dakhil pada tahun 138 H, orang-orang Arab belum memiliki posisi yang kokoh di Jazirah Iberia itu. Tidak sampai setahun, ad-Dakhil telah berhasil mengokohkan posisinya di Cordoba. Dari Cordoba, ia berhasil menguasai Zaragoza dan Barcelona. Kedua kota tersebut ia taklukkan atas kecerdikannya melobi kekuatan militer bangsa Frank untuk membantunya. Kemudian ia menguasai kota-kota lainnya.

Abdurrahman bin Muawiyah bin Hisyam bin Abdul Malik atau Abdurrahman ad-Dakhil Menjadi penguasa tunggal di Andalusia pada usia 29 tahun. Dan terus memegang kekuasaan selama sekitar 34 tahun.

Masa pemerintahannya dikenal oleh para ahli sejarah dengan masa pembangunan besar-besaran. Dia membangun kota menjadi lebih indah, membuat pipa air agar masyarakat ibu kota memperolah air bersih, kemudian mendirikan tembok yang kuat di sekeliling kota Cordova dan istana. Ad Dakhil juga membuat taman yang dinamakan Al-Rusafah di luar kawasan Kordoba, menjadikan Kordoba sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan yang paling menarik di wilayah Eropa, dan sebagai tandingan dari Baghdad yang berada di bagian Timur.

Kontribusi Abdurrahman ad-Dakhil dalam bidang ilmu pengetahuan sangat besar. Dia mendirikan beberapa universitas, di antaranya Universitas Cordova, Universitas Toledo dan Universitas Sevilla, juga membangun masjid Kordoba yang megah yang pada tahun 1236 di jadikan gereja yang kini dikenal dengan nama La Mazquita.

Andalusia juga mengalami pertumbuhan ekonomi dan perkembangan peradaban yang sangat pesat. Cordova mampu bersaing dengan Konstantinopel dan Baghdad dari segi kemegahan, kemewahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan seni.

Selain sebagai pemimpin yang piawai berperang, diplomasi dan politik,  Abdurrahman juga dikenal sebagai seorang penyair dan orator ulung. Meskipun awalnya dia adalah pemuda yang terusir, namun dengan ketegaran dan kemauan kerasnya ia berhasil mendirikan Daulah Umayyah II yang mampu bertahan hingga 1031 M. Abdurrahman Ad-Dakhil meninggal pada 172 H dalam usia 61 tahun dengan meninggalkan banyak warisan berharga bagi dunia.(ZA)