Logo PPP

DEWAN PENGURUS PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Arudji Kartawinata, Mengabdi Pada Negara Tanpa Henti

16 Juni 2017 - 11:27:48

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Arudji Kartawinata dikenal sebagai tokoh nasional yang telah berjasa ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sejak saat usia muda pun ia sudah aktif dalam gerakan kebangsaan, terutama di Sarekat Islam yang kemudian menjadi PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia).

Awalnya ia dipilih menjadi ketua PSII tingkat Garut, kemudian ia menjadi ketua PSII di tingkat Jawa Barat. Karena keaktifannya dan loyalitasnya di SI, Arudji kemudian diangkat menjadi peimpinan PSII. Bahkan akhirnya ia menjadi wakil Ketua LajnahTanfidjiah PSII di tingkat Nasional.

Arudji dilahir di Garut, 5 Mei 1905 M. Ia menamatkan mendapatkan pendidikan dan bersekolah di HIS hingga tamat.  kemudian melanjutkan sekolahnya ke Mulo (sederajat dengan SMP) di Bandung. Setelah lulus sekolah, ia menjadi guru kemudian menjadi kepala sekolah di SD Sarekat Islam Garut.

Sewaktu masih digarut Arudji juga aktif di dunia literasi. Ia sempat menerbitkan mingguan Balatentara Islam. Media massanya ini banyak menyokong pemberitaan kegiatan dan gerakan Sarekat Islam. Bahkan  hasil-hasil rapat Sarekat Islam juga tidak lepas dari pemberitaan medianya tersesbut, itu dilakukan semata-mata agar dapat diketahui oleh masyarakat luas.

Tidak hanya aktif dalam partai, sebelum itu saat masih dalam masa perjuangan kemerdakaan, yaitu sejak zaman Jepang, Arudji telah aktif dlam pergerakan dan ikut berjuang. Ia pernah bergabung dengan pasukan Peta (Pembela Tanah Air) dan  menjabat sebagai Daidancho (Komandan) Peta di Cimahi. Karena kariernya di Peta, setelah Indonesia merdeka, ia diangkat menjadi Komandan BKR (Badan Keamanan Rakyat). BKR kemudian berubahmenjadi TKR ( Tentara Keamanan Rakyat) Divisi III Jawa Barat. Divisi ini kemudian yang menjadi cikal bakal Divisi Siliwangi yang kita kenal selama ini.

Setelah kemerdekaan Indonesia Arudji terpilih menjadi Menteri Muda Pertahanan dalam Kabinet Syahrir II. Dengan lahirnya perjanjian Renville tahun 1948 M pasukan TNI harus ditarik ke Yogyakarta. Arudji ditunjuk menjadi Ketua panitia Hijrah TNI yang harus memindahkan tentara kita dari daerah-daerah yang dikuasai Belanda ke wilayah Republik.

Karir politik Arudji cukup cemerlang, ia pernah menjadi anggota DPR RIS ( Republik Indonesia Serikat). Setelah Pemilu tahun 1955, Arudji kemudian terpilih menjadi kembali menjadi anggota DPR RI wakil dari PSII. Tidak berhenti sampai disitu, karirnya berlanjut tahun 1960, ia terpilih menjadi Ketua DPR GR (Gotong Royong).

Semasa menjabat sebagai ketua DPR, tepatnya pada 13 Januari 1966, Arudji menyerahkan tuntutan KAMI kepada Presiden Sukarno. Dua hari kemudian ia diberhentikan sebagai Ketua DPR GR bertepatan dengan dilakukan reshuffle kabinet oleh Presiden Sukarno. Saat itu sudah dalam masa Demokrasi  Terpimpin, posisi Ketua DPR setingkat menteri sehingga bisa diberhentikan setiap saat.

Ketika tidak menjabat lagi sebagai Ketua DPR ia menjadi anggota DPA ( Dewan Pertimbangan Agung) pada tahun 1966 M hingga 1968 M. Berbagai aktifitasnya dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan serta berbagi jabatan yang diembannya menjadi bukti pengabdiannya pada negara. Arudji Kartawinata wafat pada pada tanggal 13 Juli 1970 di Jakarta setelah menderita radang otak. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. (Dari berbagai sumber/ ZA)