Logo PPP

DEWAN PENGURUS PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Belajar dari Kesederhanaan AR. Fachrudin

09 Mei 2017 - 17:05:21

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

Sebagai Ketua PP Muhammadiyah 1968-1990, AR. Fachrudin biasa menjadi pengisi pengajian dalam sebuah majelis Ibu-Ibu. Suatu hari beliau pamit tidak bisa hadir karena sait dan dirawat di rumh sakit. Namun beliau tidak memberi tahu kepada jamaahnya karena tidak mau merepotkan.

Karena tidak memberi tahu alasan akhirnya Ibu-ibu mencari tahu kenapa sang guru tidak hadir di pengajian. Ibu-ibu akhirnya tahu bahwa sang muballigh ( AR. Fachrudin) sakit dan menjalani operasi di rumah sakit.

Sebagaimana kebiasaan hidup para muballigh, AR. Fachrudin hidup dengan sangat sederhana dan bersahaja. Melihat kondisi yang demikian para ibu kemudian berniat untuk mebantu sang muballigh. Mereka bersepakat untuk mengumpulkan uang demi meringankan biaya bagi sang muballigh. Uang terkumpul lumayan banyak.

Singkat cerita para ibu kemudian menjalankan sunnah Nabi saw dengan menjenguk “saudaranya” yang sakit. Di rumah sakit, para ibu dengan sedikit basa basi kemudian mengatakan:

“Bapak, kami datang ke sini untuk memberikan amanat para ibu yakni menyerahkan sumbangan untuk kepentingan meringankan biaya bapak di rumah sakit.”

Sang muballigh berterima kasih dan merasa bersyukur karena dibantu dan akhirnya sembuh. Tidak berapa lama setelah kesembuhan kemudian, sang muballigh mengundang para ibu ke rumahnya (rumah bukan milik pribadi). Para ibu senang mendengar Bapak guru mereka sudah sembuh dan mereka dating kerumahnya.

Sang Muballigh mengucapkan terima kasih kepada para ibu yang telah membantu biaya selama dirinya dirawat di rumah sakit, sampai akhirnya dirinya sudah sembuh. Di bagian akhir dari sambutan sang muballigh, ada sesuatu yang mengejutkan bagi ibu-ibu. Sang muballigh menyerahkan sebuah amplop yang agak besar.

Melihat hal demikian tentu para ibu kaget dan bertanya-tanya apa isi amplop itu? Sang muballigh mempersilahkan para ibu untuk membukanya. Ketika dibuka, ibu-ibu lebih kaget lagi. Isinya adalah uang!

Di tengah keterkejutan dan pertanyaan dalam diri para ibu, Sang muballigh itu kemudian menjelaskan bahwa uang itu adalah uang  kelebihan dari sumbangan ibu-ibu untuk berobat di rumah sakit. Uang sumbangan dari ibu-ibu itu lebih dari cukup untuk berobat. Karena akad (kata-kata para ibu) waktu menyerahkan sumbangan adalah untuk biaya berobat dan ternyata masih ada kelebihan maka kelebihan itu dikembalikan.

Dari kisah diatas kita dapat mengambil banyak pelajaran mengenai keikhlasan, kesederhanaan dan sikap wara. Beliau juga memberi conto dan komitmen hanya menerima bantuan sesuai akad atau kata-kata para ibu. (Dari berbagai sumber/ZA)