Logo PPP

DEWAN PENGURUS PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Buya Hamka; Ulama, Sastrawan dan Politisi Handal

11 September 2017 - 21:11:42 | 257

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Siapa yang tidak kenal Buya Hamka, karya-karya bukunya banyak dinikmati dan dipelajari dari generasi ke generasi. Karya beliau meliputi banyak hal, mulai topik dari keIslaman juga tasawuf. Bahkan banyak diantara karyanya juga berupa karya fiksi berupa novel. Tentu kita tidak asing dengan film berjudul Kapal Van Der Wickj dan Di Bawah Lindungan Ka’bah. Dua film dramatis dengan banyak muatan pelajaran berharga tersebut diangkat dari novel karya Buya Hamka.

Beliau merupakan ulama yang multi talenta. Mengusai banyak bidang keilmuan mulai filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik. Jangan kira beliau belajar itu semua dari bangku sekolah atau perguruan tinggi seperti para pendiri bangsa yang lain. Beliau hanya menyelsaikan pendidikan formal samapi kelas dua sekolah dasar,  semua keilmuan itu dipelajari secara otodidak.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau pemilik nama akronim Hamka merupakan putra dari ulama dan pejuang reformis Islam Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul). Ibunya adalah Siti Safiyah Binti Gelanggar bergelar Bagindo nan Batuah. Sedangkan sebutan Buya adalah panggilan khas orang Minangkabau. Beliau dilahirkan pada 17 Februari 1908 di Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat. Beliau mendapat pelajaran agama dari ayahnya dan juga lembaga yang didirikan oleh ayahnya yaitu Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Sejak kecil beliau juga telah dididik oleh Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.

Ketika usia Buya Hamka masih relatife muda yaitu menginjak 18 tahun, beliau sudah merantau ke Jawa. Di Jawa beliau belajar kepada banyak pemimpin gerakan Islam Indonesia diantaranya Haji Fakharudin, Hadi Kesumo dan Rashid Sultan Mansur. Bahkan beliau juga belajar kepada raja Jawa tanpa mahkota yang juga guru dari banyak tokoh besar di Indonesia yaitu Haji Omar Said Chakraminoto. Sederet nama tokoh tersebut memberikan banyak pelajaran dan bekal pada perjalanan hidup Buya Hamka kemudian.

Selesai mendapat pendidikan dari berbagai tokoh termasuk di Jawa, beliau memulai pengabdiannya dibidang pendidikan dengan menjadi guru agama. Beliau juga menekuni dunia jurnalistik sejak awal 1920an. Nama beliau pernah tercatat sebagai wartawan dibeberapa surat kabar diantaranya Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Beliau juga pernah menjdi editor majalah Pedoman Masyarakat dan Gema Islam, majalah Kemajuan Masyarakat dan majalah al-Mahdi di Makasar.

Buya Hamkan juga rajin dalam berdakwah dan menyampaikannya melalui berbagai media, mulai dari ceramah sampai tulisan-tulisannya. Keaktifannya itu membawa beliau terlibat dan ikut andil dalam kepengurusan organisasi Muhammadiyah bersama KH. Faqih Usman. Tidak hanya itu, beliau juga berkiprah di kancah politik mulai dari Sarekat Islam sampai Masyumi. Di zaman revolusi beliau juag ikut berjuang dengan mengobarkan semangat para pejuang melalui pidatonya, bahkan ikut bergerilya di dalam hutan di Medan.

Seiring waktu perjalanan hidup beliau pernah diamanati sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) oleh Menteri Agama RI Prof. Dr. Mukti Ali. Ketika itu integritasnya benar benar di pertaruhkan, beliau berhasil menahkodai MUI dengan baik. Meskipun akhirnya beliau mundur karena intervensi dan tekanan dari berbagai pihak. Dua tahun berselang dari pengunduran dirinya, beliau wafat di RS Pusat Pertamina. Setelah sebelumnya sempat dirawat 3 hari di ruang ICU karena komplikasi penyakit kencing manis, gangguan jantung, radang paru-paru, dan gangguan pada pembuluh darah. Beliau wafat pada hari Jumat, 24 Juli 1981 pukul 10.41 di usia 73 tahun. Setelah disholatkan di Masjid Al-Azhar, jenazahnya kemudian dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta.

Berkat jasa-jasanya pada negara, Presiden Soeharto menganugerahkannya Bintang Mahaputera Utama pada tahun 1993. Setelah itu pada tahun 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi gelar pahlawan Nasional pada Hamka berdasarkan surat Keputusan Presiden Nomor 113/TK/2011. Beliau telah mewariskan banyak hal bagi bangsa dan negara serta agama. Keteladanan beliau dalam keseharian dan pergaulan patut dijadikan acuan bagi generasi bangsa dan juga para pemimpin negara saat ini. (ZA)