Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Dramatik: Upaya Ketum PPP Ajukan Maruf Amin Sebagai Cawapres Jokowi

11 Agustus 2018 - 11:48:17 | 32

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), M Romahurmuziy bercerita soal lobi politik kepada presiden Joko Widodo agar memilih KH Maruf Amin sebagai cawapresnya di pilpres 2019. Hal itu disampaikan saat bersilturahmi bersama Ma'ruf di Kantor DPP PPP di Jakarta, Jumat (10/8).

Politisi yang di kalangan santri akrab disapa Gus Rommy itu, mengaku pernah menawarkan nama Maruf kepada Jokowi pada 3 Desember 2017. Saat itu, beliau menginginkan agar Rais Aam PBNU dapat masuk kandidat cawapres Jokowi.

"Sejak saya ditanya oleh Presiden Jokowi siapa yang akan diusung oleh PPP, jujur saya menyebut Maruf Amin diurutan pertama sejak 9 bulan lalu," ungkapnya.

Selang sebulan berikutnya, Gus Rommy mengaku sengaja mengunjungi kediaman Maruf untuk bersilaturahmi. Saat itu, ketum partai yang terkenal milenial ini menyampaikan laporan bahwa dirinya telah menyodorkan nama Maruf sebagai bakal cawapres Jokowi dari PPP.

Saat pertemuan itu, ia mengaku bersalah dan ditegur oleh Maruf karena tidak berkomunikasi terlebih dahulu sebelum menyodorkan nama Ketua MUI itu ke Jokowi.

Saat itu, Maruf menegurnya dan menyatakan tak bersedia karena alasan umur yang sudah menua dan tak muda lagi.

"Enggak usah dicalon-calonkan saya itu, wong saya sudah tak berminat dan sudah berumur," kata putra Prof KH Tholhah Mansoer ini menirukan ucapan ulama NU itu.

Melihat tanggapan tersebut, Ketum PPP itu lantas menjawab dengan enteng dengan membandingkan usia Maruf yang lebih muda 1 tahun ketimbang usia Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

Diketahui, JK lahir pada 14 Mei 1942 atau berusia 76 tahun saat ini. Sedangkan Maruf lahir pada 11 Maret 1943 atau berusia 75 tahun saat ini.

"Lalu saya tegaskan, Pak Kiai juga usianya lebih muda 1 tahun dibanding Pak JK. Kalau soal tampilan, kan, yang usianya sudah 40 saja boros mukanya," ujarnya.

Selain itu, beliau juga meyakinkan kembali bahwa Maruf merupakan salah satu tokoh yang menjadi titik temu dari seluruh perbedaan yang dialami oleh parpol pengusung Jokowi untuk memilih cawapresnya.

Menurutnya, hanya sosok Maruf yang bisa meredam isu ujaran kebencian dan isu SARA yang kerap kali timbul ketika kontestasi politik berlangsung. Status Maruf sebagai kiai senior dan negarawan memiliki modal politik yang kuat untuk menghadapi sentimen berbasis SARA oleh pihak yang tak bertanggung jawab.

"Saya yakin kalau kiai dipilih, jadi orang sulit untuk kemudian melakukan finalisasi ujaran kebencian lagi," katanya.

Beberapa hari setelah pertemuan itu, Gus Rommy lantas bertemu kembali dengan Jokowi untuk menyusun profil tokoh-tokoh yang cocok untuk dijadikan cawapresnya.

Pada peretemuan itu pun Gus Rommy mengaku tetap mengusulkan Maruf sebagai cawapres Jokowi. Ia melihat ada dua faktor lain yang membuat Maruf lantas dipilih Jokowi.

Pertama, katanya, Maruf memiliki modal sebagai kader organisasi Islam terbesar di Indonesia yaitu Nahdhatul Ulama sekaligus menjadi Rais Aam PBNU. Modal ini bisa digunakan untuk mengerahkan kader-kader NU yang tersebar di seluruh Indonesia.

"Tentu karena kiai adalah pemimpin tertinggi NU insyaallah NU kompak (mendukung)," kata dia.

Faktor kedua, lanjut Gus Rommy, status Maruf yang menjadi Ketua MUI dan menaungi 37 ormas Islam yang ada di Indoneisa. Oleh karena itu, kekuatan MUI menjadi potensi besar untuk merapatkan seluruh ormas Islam agar memilih Jokowi.

"Beberapa waktu lalu Mas Lukman Hakim mengingatkan, kalau kiai yang dipilih Pak Jokowi insyaa Allah ormas-ormas Islam merapat. Siap, saya bilang," kata Gus Rommy.

Tak hanya itu, status ketua MUI dapat menjadi senjata untuk membendung kekuatan kelompok Persaudaraan Alumni 212 yang kerap berbeda pandangan dengan Jokowi.

Ia mengatakan cikal bakal hadirnya kelompok 212 itu berawal dari terbentuknya Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) pada 2016 lalu jelang perhelatan pilkada DKI Jakarta. (red, Sk)