Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Elektabilitas Jokowi Naik, PPP Sebut Masih Belum Aman

24 April 2018 - 15:32:41 | 123

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Survei terbaru Litbang Kompas menunjukkan elektabilitas Presiden Joko Widodo (Jokowi) menanjak naik. Sementara elektabilitas Prabowo Subianto yang menjadi penantang terkuat petahana justru semakin turun.

Dikutip dari Kompas, Senin (23/4/2018), responden yang memilih Jokowi apabila Pilpres digelar saat ini mencapai 55,9 persen. Angka itu meningkat dibanding dengan enam bulan sebelumnya, elektabilitas Jokowi masih 46,3 persen.

Menanggapi hasil survei tersebut, Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arsul Sani menilai, naiknya elektabilitas Jokowi dalam sejumlah lembaga survei terbaru belum membuat Calon Presiden petahana tersebut berada pada titik aman.

Menurutnya keterpilihan Jokowi pada Pemilu mendatang tidak dapat dihitung secara sederhana berdasarkan hasil survei sekarang ini.

‎"Capaian persentase survei pada dasarnya hanya memotret keadaan atau gambaran elektabilitas di sekitar waktu survei itu dilakukan," kata Arsul Sani, Senin, (23/4/2018).

Arsul menegaskan, butuh konsistensi capaian persentase elektabilitas dalam rentang waktu yang lama sampai dengan menjelang Pilpres.

"Karena itu melihat aman tidaknya tingkat keterpilihan Pak Jokowi sebagai petahana tidak bisa sesederhana dengan menjawab angka persentasenya sudah mencapai 60% atau belum," tandas Anggota Komisi III DPR RI itu.

Lebih jauh Arsul menilai, tingkat keterpilihan Jokowi yang berdasakan survei Kompas mencapai 55,9 belum aman. Begitu juga apabila kemudian tingkat elektabilitas Jokowi mencapai 60 persen.

Apalagi, saat ini belum dapat dipastikan siapa yang akan bertarung dalam Pemilu presiden mendatang.

‎"Angka tersebut bagi saya belum menjamin keterpilihan kembali Pak Jokowi," jelasnya.

Menurut Arsul banyak faktor yang harus diperhatikan agar seorang calon berada pada titik aman dalam Pemilu Presiden.

Di antaranya yakni rentang waktu antara survei dengan Pemilu dan konsistensi hasil survei.

"Terus juga ada tidaknya kebijakan-kebijakan yang makin menyenangkan rakyat pemilih atau sebaliknya, dan tentu siapa pada akhirnya yang akan jadi sosok lawannya‎‎,"  pungkas Sekjen PPP, Arsul Sani. (Oky)