Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Gerilya Gus Rommy Untuk Maruf Amin

11 Agustus 2018 - 12:36:55 | 47

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Nama Maruf Amin didapatkan dari hasil kesepakatan sembilan ketua umum partai Koalisi Indonesia Kerja yang dituangkan dalam dokumen dukungan capres-cawapres.

Hadir dalam pertemuan final tersebut Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum NasDem Surya Paloh, Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Gus Rommy), Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Ketua Umum Hanura Oesman Sapta Odang, Ketua Umum Perindo Hary Tanoe, Ketua Umum PKPI Diaz Hendropriyono, dan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia Grace Natalie.

KH Maruf Amin yang kini berusia 75 tahun mengatakan, dengan menunjuk dirinya sebagai cawapres, Jokowi menghargai ulama dan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia. Saat ini Maruf tercatat sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. “Ini luar biasa. Beliau menghargai kita semua,” tuturnya.

Munculnya nama Maruf sebetulnya tidak mengejutkan, karena sudah disebut-sebut dalam bursa cawapres koalisi Jokowi. Dalam sepuluh nama kandidat yang diungkap Ketum PPP, Gus Rommy, terdapat nama Maruf. Di tengah panasnya lobi-lobi menjelang penutupan pendaftaran capres-cawapres pada 10 Agustus, Jokowi menyebut cawapresnya berinisial M.

Dari kalangan NU, ada pula inisial M, yakni Muhaimin alias Cak Imin, yang sejak tahun lalu gencar menyorongkan diri menjadi cawapres Jokowi. Cak Imin telah bergerak ke bawah, mendirikan posko-posko JOIN (Jokowi-Cak Imin). Ia bahkan mengancam tak akan mendukung Jokowi bila tak mendapatkan kursi cawapres.

Namun, sepanjang pekan ini, yang santer disebut-sebut telah dipilih Jokowi bukanlah Cak Imin, melainkan M yang lain, yakni bekas Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud Md. Hal itu memicu pernyataan keras dari PBNU, yang bakal mencabut dukungan ke Jokowi. Status Mahfud yang tidak diakui sebagai kader NU pun diangkat ke permukaan.

Kabar itu memang bukan isapan jempol. Seorang sumber detikX menyebutkan keputusan memilih Mahfud sudah diketok Jokowi sepekan lalu. Mahfud dianggap sebagai irisan Jusuf Kalla, wakilnya sebagai presiden saat ini. Mahfud berasal dari kalangan muslim tradisional, tapi berpandangan modern. Mahfud paling kencang menentang orang-orang yang ingin mengubah ideologi negara, semisal Hizbut Tahrir Indonesia. Dia juga kader Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Presiden ke-4 RI, dan bekas Ketua PBNU.

Hanya, Jokowi meminta Mahfud menyelesaikan masalah dengan Cak Imin, yang selalu berusaha mengganjalnya. Karena itu, Kamis pagi, Mahfud bertemu dengan Cak Imin di sebuah rumah di Jalan Empu Sendok, Menteng. Masalah itu akhirnya selesai dan jalan Mahfud terbuka lebar.

Pernyataan Cak Imin sebelum finalisasi dukungan parpol Koalisi Indonesia Kerja pun seolah menegaskan cairnya hubungan keduanya. Mahfud disebutnya sebagai keluarga. “Ya, pokoknya silaturahmi. Pak Mahfud adalah keluarga kita juga,” ujarnya.

Adapun Mahfud menuturkan, Kamis pagi itu sudah diminta mengirim curriculum vitae. Ia juga diminta mengukur kemeja putih yang hendak digunakan untuk pendaftaran capres-cawapres. Sehari sebelumnya, Mahfud mengurus surat keterangan tidak pernah sebagai terpidana di Pengadilan Negeri Sleman untuk syarat pendaftaran.

Berbeda dengan Ma’ruf. Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan, dalam beberapa hari belakangan, Ma’ruf santai saja meski terus mengikuti perkembangan. Bahkan, setelah mendapat informasi yang terpilih adalah Mahfud, Ma’ruf sudah bersikap legawa. “Semua diserahkan kepada Allah. Beliau nyaman sebagai kiai,” ucap Zainut sebagaimana dilansir detikX.

Kamis pagi, Ma’ruf tak sedikit pun terlihat sibuk mengurus syarat pendaftaran capres. Ma’ruf mengikuti kegiatan MUI menggalang dana kemanusiaan untuk bencana gempa bumi Lombok, Nusa Tenggara Barat, di Warakas, Jakarta Utara, sekitar pukul 10.00 WIB. Ia juga mengikuti beberapa pertemuan yang tak terkait dengan politik.

Ketika hari makin sore, Mahfud bergerak ke kantor milik Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto di Jalan Sutan Syahrir, Menteng, untuk mengukur baju. Setelah itu, ia menunggu di Restoran Tesate, sekitar 500 meter dari Restoran Plataran Menteng, bersama pendukung-pendukungnya yang bersiap menyambut deklarasi Jokowi-Mahfud.

Sekitar pukul 16.00 WIB, para ketua umum parpol Koalisi Indonesia Kerja didampingi para sekretaris jenderal mereka mulai berdatangan ke Plataran Menteng. Menurut sumber detikX, satu jam sebelum pertemuan berlangsung, peta dukungan terhadap cawapres Jokowi mulai berubah. Praktis, ketika pertemuan berlangsung, para ketua umum parpol tinggal menunggu keputusan yang diambil oleh Jokowi.

Jokowi mengaku sangat susah mencari nama yang diterima oleh semua pihak. Ada saja yang keberatan. Akhirnya keputusan diambil pada injury time, berdasarkan irisan-irisan yang didukung oleh semua pihak. Dan pilihan itu akhirnya jatuh pada Ma’ruf Amin.

Perubahan itu merupakan hasil upaya gerilya PPP dna PKB. Gus Rommy dan Cak Imin disebut-sebut sebagai pihak yang vokal mempersoalkan penunjukan Mahfud oleh Jokowi. Mahfud dianggap sebagai pihak yang justru menjadi masalah di NU. Kedua, peluang untuk Pilpres 2024 bagi parpol dapat tertutup rapat dan direbut oleh Mahfud.

Gus Rommy ikut bersyukur. Maruf adalah usulan yang terus didesakkan PPP sejak Desember 2017. “Seperti yang sudah pernah sy sampaikan di twit sy 10 Juli lalu, M yang akhirnya dipilih adalah Kiai Maruf Amin. Alhamdulillah usulan PPP sejak Desember 2017 lalu secara konsisten akhirnya diterima,”cuitnya. (red, Sk)