Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Ketum Romahurmuziy: Lima Tantangan PPP di Pemilu 2019

06 Januari 2018 - 14:29:38 | 399

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M. Romahurmuziy dalam pidato politiknya menyampaikan tantangan kedepan PPP menghadapi pemilu 2019, salah satunya terjadi migrasi atau perpindahan ideologis dari partai agamis ke partai nasionalis.

"Pada pemilu 1955, partai-partai agamis mendapatkan perolehan suara 43,5 persen. Pada pemilu 2014, angka ini merosot menjadi 31 persen, yang terdiri atas PPP, PKB, PAN, PKS dan PBB," kata Ketum Romahurmuziy dalam pidato politiknya di acara Harlah PPP ke-45, di Kantor DPP PPP, Jl. Diponegoro, Jakarta Pusat, Jum’at (5/1/2018).

Menurut Romahurmuziy hal itu menjadi keprihatinan bersama, karena ada perpindahan orientasi politik santri dari agamis menjadi semakin sekuler. Juga sebagian putra-putri dan aktivis ormas Islam yang memilih partai-partai sekuler.

Bahkan Romahurmuziy menilai, ada yang aktif di partai politik yang pemimpinnya tidak sesuai dengan ajaran Islam. Angka-angka survei juga menunjukkan bahwa rakyat merasa semakin jauh dari pemimpin politiknya.

"Hal ini harus kita jawab dengan silaturrahim ke basis, membangun ketokohan pemimpin-pemimpin partai, serta kerja nyata dan menyentuh kepentingan rakyat," tandasnya.

Tantangan kedua menurut Ketum PPP, Pilkada 2018 akan menjadi pemanasan dan gambar pertarungan di Pemilu 2019. Karena berlangsung di 17 provinsi dan 154 kab/kota dengan melibatkan total 70 persen pemilih Indonesia. Pilkada 2018  Romahurmuziy membeberkan, telah menugaskan seluruh elemen partai untuk all out memenangkan pasangan calon yang diusung PPP.

"DPP partai menginstruksikan untuk seluruh elemen Partai Bergerak Bersama Rakyat untuk memenangkan paslon yang dihadapi PPP," tukasnya.

Tantangan ketiga, kemungkinan adanya kontraksi politik akibat fitnah politik yang dibuat seiring massifnya penggunaan media sosial. Romahurmuziy menilai, medsos yang dipakai separuh masyarakat Indonesia justru menjadi penyekat silaturahim dan bukan perekat silaturahmi. Alasannya, karena menjauhkan yang dekat hanya karena perbedaan soal Pilkada dan Pilpres.

"PPP melalui tema hari lahir ini mengajak semua untuk bersatu, karena bangsa ini butuh bersatu daripada bertikai. Bangsa ini butuh kekompakan karena musuh kita di luar Indonesia yang ingin mencaplok Indonesia dengan kekuatan finansial dan mengganggu keharmonisan," tegasnya.

Lanjut Ketum PPP menjelaskan tantangan keempat, waktu pelaksanaan Pileg dan Pilpres yang bersamaan untuk pertama kalinya, pada tanggal 17 April 2019 sehingga beban elektoral sudah pasti akan ada di pundak seluruh kader. Menurutnya, Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) II PPP tanggal 21 Juli 2017 telah menetapkan PPP mencalonkan kembali Joko Widodo sebagai Presiden pada Pemilu 2019. Sehingga tugas PPP adalah mendorong Cawapres pendamping Jokowi harus dari kalangan santri, baik figur partai atau non-partai.

"Cawapres yang demikian sekaligus dapat menjawab pelabelan anti-Islam dan pro-komunis yang terus dilekatkan lawan-lawan politik kepada Jokowi," katanya.

Tantangan terakhir, Ketum Romahurmuziy mengatakan, seluruh politisi PPP dihadapkan pada tuntutan pragmatisme pemilih, Islam mengharamkan risywah termasuk suap dalam mendapatkan suara. Namun realitasnya menurut dia, tanpa pembiayaan yang cukup caleg-caleg bertumbangan, sehingga setiap pimpinan baik di pusat maupun di daerah harus pandai-pandai dalam merekrut caleg.

"Setiap caleg harus memiliki tiga modal sekaligus. Yakni modal jaringan politik, modal sosial berupa popularitas dan rekam jejak, serta modal finansial," tuntas Ketum PPP M. Romahurmuziy. (Oky)