Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

KH Djarnawi Hadikusumo Seorang Ulama, Politisi Sekaligus Pendekar

14 Juni 2017 - 16:48:53 | 579

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - KH Djarnawi Hadikusumo dilahirkan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada 4 Juli 1920 M. Ayahnya adalah salah satu tokoh nasional yang berkontribusi besar dalam kemerdekaan negara republik Indonesia. Ibunya Siti Fatmah keturunan RH.Suhud seorang abdi dalem santri keraton Yogyakarta.

Djarnawi begitu KH Djarnawi Hadikusumo biasa dipanggil, mengawali studinya di Sekolah Bustanul Athfal Muhammadiyah di Kauman. Dia meneruskan ke jenjang berikutnya, yaitu ke Standaardschool Muhammadiyah dan Kweekschool Muhammadiyah. Pada 1935, Kweekschool Muhammadiyah diubah menjadi Madrasah Mu`allimin Muhammadiyah yang sekaligus menjadi tempat pendidik an formal terakhir baginya.

Sejak remaja, ia telah dididik dan digembleng oleh ulama besar Muhammadiyah, seperti KH Mas Mansur, KH Faried Ma`ruf, KH Abdul Kahar Mudzakir, KH Siradj Dahlan, dan KH Rasyidi. Ketika bertugas di Sumatra, dia juga sempat berguru kepada Buya Hamka dan Buya Zainal Arifin Abbas.

Setelah lulus dari Mu’allimin Djarnawi mendapatkan tugas dakwah dari Muhammadiyah di daerah Merbau Sumatera Utara. Di sana beliau aktif sebagai pengurus ranting muhammadiyah Merbau. Selain itu juga aktif berdakwah dilingkungan perkebunan Merbau dan terakhir beliau diamanahi sebagai kepala sekolah di Sekolah Muhammadiyah. Begitu pula saat pindah di Tebing Tinggi Djarnawi Hadikusuma juga diangkat sebagai kepala sekolah di Sekolah Muhammadiyah serta aktif di cabang muhammadiyah Tebing Tinggi.

Setelah dia pulang ke Yogyakarta Aktivitas Djarnawi di dakwah dan organisasi Muhammadiyah meningkat. Saat itu, dia mulai tercatat sebagai salah seorang anggota Majelis Tabligh Pengurus Pusat Muhammadiyah hingga 1962. Pada Muktamar Muhammadiyah 1967 ke-36 di Bandung, ia terpilih sebagai sebagai ketua III Pengurus Pusat Muhammadiyah.

KH Djarnawi sempat memimpin lembaga perguruan pencak silat Tapak Suci Putra Muhammadiyah. Selama 25 tahun memimpin tapak suci beladiri ini mengalami kemajuan pesat. Keahlian ilmu bela diri ia peroleh sejak usia muda di Kampungnya Kauman. Selain itu, ketika bermukim di Sumatra, dia sempat berguru ilmu silat kepada Sutan Chaniago dan Sutan Makmun, dua orang pendekar yang memiliki nama besar di wilayah Sumatra Utara.

Beliau salah seorang tokoh yang mendorong kelahiran seni bela diri ini pada tanggal 13 Juli 1963. Djarnawi adalah tokoh yang merumuskan doa dan ikrar perguruan Tapak Suci Putra Muhammadiyah. Dimana doa dan ikrar ini menjadi pembuka latihan dan pertandingan silat Tapak Suci.

Tidak hanya berkecimpung dalam dunia dakwah beliau juga aktiv dalam bidang politik. KH Djarnawi Djarnawi pernah men jabat sebagai ang gota MPRS/DPRGR, da ri 1966 sampai 1971. Ketika Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) didirikan pada Februari 1968 M, Ia dipercaya sebagai ketua umum Parmusi sampai November 1968 M.

Tak hanya aktif berorganisasi, KH. Djarnawi juga penulis produktif. Ia menulis sekira 20 karya tulis, di samping sejumlah tulisan lepas yang tersebar di berbagai media cetak. Buah pemikirannya itu setidaknya menyentuh lima bidang, yakni keislaman, sastra, Kristologi, sejarah, dan pendidikan.

Beliau juga dikenal mahir dalam bidang seni, lagu berjudul "Sang Surya" yang ditetapkan menjadi mars Muhammadiyah adalah karya ciptaannya. KH. Djarnawi wafat pada 26 Oktober 1993, tepat di usia 73 tahun, meninggalkan seorang istri, yaitu Sri Rahayu, dan tujuh putra. (Dari berbagai sumber/ ZA)