Advertisment

KYAI HASYIM YANG SAYA KENAL

  • 16 Maret 2017 - 16:47:18
  • Nasional
  • Admin
  • dibaca : 899

Suatu hari, di tahun 2007, selepas Pilkada Jawa Timur, yang dalam catatan sejarah merupakan Pilkada langsung yang berjalan sebanyak 3 putaran, saya dan beberapa rekan nahdliyyin duduk santai bersama Kyai Hasyim di kediaman beliau, Jl. Cengger Ayam, Malang. Saya bertanya, "Kyai, katanya Jawa Timur itu basis NU, mengapa kita kok kalah ngusung gubernur NU? Apa warga NU dan para santri sudah tidak taat kepada para Kyainya?" Sebagai catatan, saat itu PPP merupakan satu-satunya partai politik parlemen yang mengusung Khofifah Indarparawansa sebagai Cagub Jawa Timur, bersama 16 parpol non parlemen. Jawaban Kyai Hasyim enteng, "Rom, dulu santri-santri NU itu kaya saya. Sekarang, santri-santri NU itu kaya kamu-kamu." Meski disampaikan sambil terkekeh, saya merasakan jawaban itu menandai keprihatinan Kyai Hasyim atas dekadensi moral dan tradisi ketaatan yangg khas dimiliki warga NU.

Indonesia umumnya dan NU khususnya kehilangan salah satu ulama yang lengkap pengalamannya, baik dalam segi ilmunya, santun tutur-bahasanya, teguh pendiriannya, luas pergaulannya, diterima seluruh umat lintas agama. Kyai Hasyim adalah ulama yang langka, bukan hanya menekuni ilmu agama, namun juga mempraktekkannya dalam aktivitas organisasi, berbangsa, dan bernegara. Beliau seorang kyai yang alim, organisator ulung, orator hebat, politisi yang konsisten sekaligus negarawan sejati. Itulah kesan yg saya rasakan sebagai orang yang merasa sangat beruntung berkali-kali menimba ilmu langsung dari almarhum. Tidak pernah lazimnya ulama, Kyai Hasyim marah-marah kepada siapapun. Beliau teguh dalam memegang prinsip, namun halus dalam penyampaian.

Satu hal yang saya kenang, setiap beliau selesai berpidato, tak pernah absen bertanya kepada orang-orang sekeliling beliau, termasuk saya, "Bagaimana tadi pidato saya, lumayan, lebih dari lumayan, atau kurang dari lumayan?" Pertanyaan tersebut, sekaligus cermin kerendahhatian beliau kepada siapapun. Bahwa ulama, kyai, juga manusia yang tak pernah luput dari salah dan alpa. Pilihan beliau untuk dimakamkan di Pondok Pesantren Al Hikam II miliknya di Depok, bukannya di TMP Kalibata, Jakarta, atau  Malang, kota tempat awal beliau membina masyarakat, tak lepas dari perhatiannya yang luar biasa kepada para santri Pondok Pesantren Al Hikam II, yang beliau tengah bina. Bahwa ulama sejati, adalah yang lahir, besar dan kembali ke dunianya, dunia santri. Sebagai warga nahdliyyin dan santri Kyai Hasyim, saya berterimakasih kepada Pemerintah yang telah menghormatinya secara paripurna dalam upacara militer.

Saya menulis ini, dalam iring-iringan kendaraan menghormati Kyai Hasyim dari Bandara Halim, Jakarta, ke Pondok Pesantren Al Hikam II, Depok. Sebagai tempat peristirahatannya yang abadi.

Selamat jalan kyai, kami semua kehilangan guru bangsa sejati. Semoga kami dapat meneruskan silaturrahmi, moderasi, dan keteguhan panjenengan dalam mengawal Islam rahmatan lil alamin di bumi NKRI.

 

Jakarta-Depok, 16 Maret 2017

M. Romahurmuziy

Ketua Umum DPP PPP

Kirim komentar