Advertisment

Masa Depan Pemuda di Gelanggang Politik

  • 04 Maret 2017 - 16:16:18
  • Nasional
  • Admin
  • dibaca : 579

Pemuda identik dengan semangat yang berkobar, dinamis dan penuh kreatifitas. Dalam sejarah lahirnya bangsa Indonesia, pemudalah yang menjadi aktor terdepan meraih kemerdekaan. Mulai dari sosok HOS Tjokroaminoto, KI Hajar Dewantara, Soekarno, Bung Hatta dan lainnya. Melalui semangat nasionalisme merekalah akhirnya para penjajah hengkang dari bumi Nusantara.

Peran pemuda sudah terlihat semenjak berdirinya organisasi Boedi Oetomo 1908, berlanjut dengan peristiwa sumpah pemuda 1928, kemudian proklamasi kemerdekaan 1945, juga keruntuhan Orde Lama 1966 sampai peristiwa Reformasi 1998. Peran pemuda dari masa ke masa tersebut, telah menyadarkan kita arti penting peran pemuda dalam perjalanan bangsa Indonesia. Berbagai persoalan mampu dijawab oleh jiwa-jiwa muda yang revolusioner. Merekalah yang menjadi pendobrak dan martir atas peliknya masalah kebuntuan yang dihadapi bangsa Indonesia.

Setiap masa melahirkan pemuda dengan karakter dan kemapuan yang dibutuhkan keadaan. Jiwa revolusioner sekelas Soekarno lahir dizaman kolonial dengan kemampuan orasi dan cerdasnya daya intelektual serta jiwa perlawanan yang sangat mengakar dalam sosok pribadinya.

Hal ini tentu berbeda dengan pergerakan pemuda di era 90an, dimana mereka dituntuk utuk menyelesaikan berbagai masalah negara Indonesia dalam posisi sebagai negara yang merdeka. Tentu kita tidak berharap kegemilangan sejarah pemuda berhenti dalam sejarah dan hanya sekedar menjadi dongeng pengantar tidur atau mungkin hanya meerahkan telinga generasi muda zaman ini. Pergulatan pemuda dalam berbagai masalah dari persoalan sosial, lingkungan sampai politik harus terus dipertahankan dan digelorakan. Pemuda harus dipersiapkan dengan matang demi menjawab persoalan dimasa mendatang.

Pasca reformasi, agaknya sedikit terjadi pergeseran medan perjuangan pemuda. Kita lihat bagaimana mulai dari tahun 2000an pemuda mulai aktif dan berkecimpung di partai politik demi menjadi penyalur aspirasinya. Misalnya, momen pemilu 2014, seakan telah mengukuhkan keberdaan pemuda sebagai aktor yang turun gelanggang perpolitikan, baik  dari level nasional maupun daerah. Terdapat sekitar 6000an anak bangsa yang ikut andil mencalonkan diri untuk masuk birokrasi pemerintahan. Hal tersebut patutnya disambut dengan baik mengingat jalur untuk melakukan perubahan yang sangat potensial salah satunya adalah melalui lembaga politik.

Memang tidak semua sosok pemuda yang turun ke gelangang perpolitikan sukses dan memberi dampak positif. Ada juga diantaranya mereka justru terperosok dalam pragmatisme dan terseret dalam kasus korupsi. Salah satu contohnya adalah mantan Ketua Umum Anas Urbaningrum yang terjebak dalam lumpur &ldquoKasus Hambalang&rdquo. Padahal dia adalah tokoh yang digadang-gadang menjadi sosok pemuda yang mampu mengantikan generasi tua dan sudah malang melintang dalam berbagai jabatan strategis, mulai dari menjadi komisioner KPU sampai Ketua Fraksi Demokrat di DPR RI. Harapan itu disematkan kepada Anas urbaningrung ketika dia terpilih menjadi Kertua Umum Pertai Demokrat tahun 2010.

Melihat kenyataan itu, terkadang sedikit ironis, namun meskipun demikian, masih ada politisi muda dengan kualitas mumpuni yang bisa kita harapkan, diantaranya adalah Romahurmuziy (Ketua Umum PPP). Politisi satu ini, menjadi sosok pemuda yang digembleng dan dididik dengan berbagai prestasi dari pengalamannya di berbagai sektor, baik sektor akademik, bisnis, politik, maupun pemerintahan. Sehingga menjadi seorang politisi muda yang tidak perlu dipertanyalakan lagi kapasitas dan kapabilitasnya.

Selain berharap kepada sosok yang sudah jadi tersebut, menyiapkan generasi selanjutnya adalah hal yang tak kalah pentingnya. Institusi pendidikan yang selama ini terkesan mengekang kreatifitas pemuda memiliki tugas berat untuk mendidik pemimpin kedepan dan membantah anggapan umum tentang kemandulan dalam mencetak generasi emas. Organisasi-organisasi kepemudaan harus terus diberi ruang dan kesempatan untuk terus berdialektika dengan keadaan.

Partai politik sebagai kendaraan dalam sistem demokrasi sudah sewajarnya menyediakan tempat bagi para pemuda dan memberi kebebasan mereka untuk mengejawantahkan kemapuannya dalam memberikan solusi, kritik dan masukan yang membangun. Sayap-sayap kepemudaan dalam partai rasanya masih belum cukup untuk mewadahi potensi dan mendidik pemuda masa depan. Perlu kesadaran dan keterlibatan berbagai pihak dalam menyiapkan generasi yang mumpuni. Pemerintah, Partai, organisasi, Akademisi, budayawan dan agamawan harus bersatu padu membentuk sistem dan lingkungan yang baik demi keberlangsungan dan masa depan bangsa Indonesia kedepan. Tidak ada waktu lagi untuk berpangku tangan mengingat kemerdekaan Indonesia hampir memasuki usia 100 tahun pada 2045.

(Penulis: Dawamun Niam Alfatawi: Simpatisan Muda PPP, Mantan Ketua Umum KMPD Jawa Tengah-DIY 2014)

Kirim komentar