Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Masjid Indrapuri, Saksi Sejarah Peradaban Islam Tanah Rencong

20 September 2017 - 14:01:12 | 80

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Masjid menjadi sebuah hal yang tidak terpisahkan dari yang namanya syiar Islam. Keberadaannya bisa dijadikan acuan dari penyebaran Islam disuatu daerah, mengingat fungsi pentung masjid bagi pemeluk agama Islam. Bukan hanya penting sebagai tempat melaksanakan peribadatan semata, tetapi tidak jarang dijadikan sebagai pusat segala aktifitas sosial masyarakat. Bahkan lebih jauh bisa dikatakan masjid bagi Islam merupakan pusat peradaban baik tempat untuk pendidikan, bertukar informasi dan tempat membahas berbagai persoalan.

Pentingnya peran masjid bagi umat Islam di Indonesia banyak sekali berdiri masjid. Salah satunya adalah  Masjid Indrapuri yang merupakan bukti peningalan dan saksi sejarah persebaran Islam di Aceh. Masjid Masjid dengan luas area 33.875 meter persegi ini berdiri di Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar, sekitar 24 kilometer dari kota Banda Aceh. Keberadaan masjid ini sudah melewati sejarah panjang sejak perdaban Hindu berkembang diaceh sampai masuknya Islam di tanah Aceh.

Peristiwa-peristiwa penting pernah terjadi di masjid ini. Masjid pernah menjadi pusat pemerintah di masa agresi kedua Belanda.  Hal itu karena Masjid Raya Baiturrahman (1874) dikuasai oleh Belanda. Masjid ini juga menjadi lokasi Pengukuhan Tuanku Alaidin Muhammad Daudsyah yang ketika itu masih sangat muda menjadi Sultan terakhir. Ia menggantikan Sultan Alaidin Mahmudsyah (1870-1874) yang wafat karena sakit.

Akar sejarah yang panjang dimiliki oleh Masjid Indrapuri ini memberi daya tarik tersendiri bagi masayarakat.  Tidak mengherankan bila tiap hari puluhan masyarakat baik lokal hingga mancanegara mendatangi masjid ini. Kebanyakan dari mereka didorong oleh rasa ingin tahu dan penasaran akan keberadaan masjid yang telah berusia ratusan tahun. Menurut sejarahnya masjid ini dibangun di atas bekas pura masa pra Islam.  Pembangunannya dilakukan ketika masa jaya Kerajaan Aceh Darussalam yang saat itu berada dibawah kepemimpian Kesultanan Iskandar Muda. Kepemimpinan itu diemban berkisar sejak 1607 hingga 1636 Masehi.

Jika ditinjau dari dari segi arsitekturnya masjid ini memiliki bentuk banguan yangcukup sederhana. Sultan Iskandar Muda mamasang 36 tiang penyangga bersama penopang atap. Masing-masing tiang diukir khas gaya ukiran kerajaan kuno. Dinding masjid ini terbuat dari batu dan tanah liat sebagai campuran serta perekat. Bentuk masjid ini menyerupai piramida dengan empat atap dari bawah hingga ujung atas yang berjumlah empat tingkat. Secara filosofis empat tingkat atap ini merupakan pengejawantahan dari empat tingkat ilmu dalam Islam yaitu Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat. (Dari berbagai sumber/ ZA)