Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Mbah Maimoen: Kyai Muda Harus Melek Teknologi

04 Desember 2017 - 19:59:17 | 231

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Ketua Majelis Syari’ah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) K.H. Maimoen Zubair mengisi pengajian dalam acara Tabligh Akbar Maulid Nabi Muhammad SAW di Pon. Pes Wakaf Literasi Islam Indonesia (Wali), Candirejo, Tuntang, Semarang, Sabtu (2/12/2017).

Dihadapan ratusan kyai muda Mbah Maimoen berkisah saat dirinya belajar bahasa Melayu dan aksara latin, sewaktu muda dulu. Masa itu, bahasa Melayu belum begitu populer di masyarakat Jawa, khususnya kaum santri terbiasa menggunakan aksara arab pegon (huruf arab gundul), bukan tulisan latin.

"Saya waktu kecil diminta bapak untuk tidak hanya belajar alif ba ta, namun juga belajar ABCD. Selain itu juga belajar bahasa Melayu. Waktu itu belum ada bahasa Indonesia," papar Mbah Moen.

K.H. Maimoen Zubair berpesan kepada para kyai muda pengasuh pondok pesantren, agar mengikuti perkembangan zaman. Termasuk menguasai teknologi informasi, sehingga bisa menyampaikan dakwah secara kekinian.

Lanjut Mbah Maimoen bercerita, pada waktu muda akrab dengan nilai-nilai kebangsaan melalui bacaan-bacaan dari Penerbit Balai Pustaka. Ayahnya berpesan agar jangan meninggalkan bacaan-bacaan dari orang-orang yang berpaham nasionalis.

Salah satunya adalah Penjebar Semangat, majalah mingguan berbahasa Jawa yang terbit di Surabaya.

Majalah yang pertama kali terbit 2 September 1933 ini didirikan Dr. Soetomo, tokoh pendiri Budi Utomo. Majalan inilah salah satu media yang digunakan Budi Utomo untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia.

"Saya harus baca Penyebar Semangat, menyebarkan semangat kebangsaan," tutur Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut.

Mbah Maimoen mengakui sangat mendukung dan merestui keberadaan Forum Kyai Muda (FSKM) se-Jawa Tengah ini. Apalagi keberadaan para kyai muda ini akan menggantikannya suatu hari nanti.

Beliau mendorong agar para kyai muda melek teknologi, agar pesan dakwahnya sampai kepada umat, khususnya generasi milenial.

"Saya sebagai seorang tua, paling dahulu merestui ada forum kiai muda. Apa maksudnya saya, kyai-kyai yang ada sekarang ini akan diganti oleh kiai muda itu. Harus dibekali bahwa kyai muda mengetahui sekarang ini zaman yang tidak sama," tuntasnya. (Oky)