Logo PPP

DEWAN PENGURUS PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Persahabatan Dua Srikandi Ulung dari Serambi Mekah

12 September 2017 - 21:09:51 | 196

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Aceh merupakan daerah yang sangat religius di Indonesia. Ini dibuktikan dengan penerapan syariat Islam sebagai hukum resmi disana. Selain itu sudah sejak lama Aceh juga disebut dengan serambi Mekah. Sebutan tersebut merupakan simbol betapa eratndan melekatnya masyarakat Aceh dengan ajaran Islam. Di zaman penjajahan banyak tokoh yang lahir dari tanah rencong ini. Bukan hanya dari kaum laki laki- tetapi juga perempuan, sebut saja Cut Nyak Dhien dan Teungku Fakinah.

Tentu kita tidak asing dengan Cut Nyak Dhien, pahlawan nasional yang dikenal dengan perjuangan yang heroik. Saking gigih dan heroiknya kala berjuang sampai kiasahnya diangkat dalam film layar lebar. Sebagai seorang perempuan dia merupakan sosok tangguh dengan jiwa merdeka uyang mendorongnya untuk terus berjuang dengan melakukan gerilya. Tidak ber beda jauh, Teungku Fakinah juga merupakan ulama, pejuang tangguh dan pendidik yang ulung.

Cut Nyak Dhien dan Teungku Fakinah merupakan sahabat dalam perjuangan. Mereka sudah saling mengenal ketika peperangan-peperangan di Aceh Besar meletus. Relasi persahabatan mereka terbangun atas kesamaan nasib terjajah dan jiwa yang ingin merdeka dengan cara melawan Belanda. Mereka mempunyai kebiasan saling berkunjung ke rumah sahabatnya. Kadang Cut Nyak Dhien berkunjung kerumah Teungku Fakinah untuk beramah tamah bahkan juga meminta bantuan perbekalan perang bagi suaminya Teuku Umar. Biasnya bantuan itu berupa Cut Nyak Dhien. Begitupun sebaliknya Teungku Fakinah juga berkunjung ke rumah Cut Nyak Dhien.

Kedua wanita satria ini memiliki hubungan yang sangat erat. Suatu ketika, Teungku Fakinah mendengar kabar sangat terkejut ketika mendengarkan Teuku Umar menyerahkan diri bersama 30 pasukan dan  membelot bergabung dengan pihak Belanda. Teuku Umar sebenarnya sedang menjalankan taktik untuk mengelabui Belanda dan kemudian membawa kabur senjata dan uang sebagai modal perjuangan. Namun rencana itu sama sekali tidak diketahuai oleh Cut Nyak Dhien maupun Teungku Fakinah. Wajar saja bila Teungku Fakinah sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya Cut Nyak Dhien, apakah ia ikut membelot juga bersama suaminya. Kenapa Cut Nyak Dhien tidak menahan suaminya agar tidak embelot. Pertanyaan itu berkecamuk dalam hati Teungku Fakinah.

Ketika tersiar kabar Teuku Umar telah bergerak bersama pasukan Belanda untuk menyerang Tungkop dan pertahanan daerah XXVI Mukim, Teungku Fakinah kemudian siap siaga karena daerah tesebut daerah yang dekat dengan pertahanannya. Sebagai langkah antisipasi kemudian dibangun benteng (kuta) berjumlah tiga buah yaitu Cot Pring, Cot Raja, dan Cot Ukam. Masih dengan rasa gelisah dan pertanyaan terkait keadaan sahabatnya ia kedatangan dua orang wanita dari Bitai yang berikrar untuk ikut berperang. Mereka datang bersama beberapa perempuan lainnya dari dari Bitai dan Peukan Bada.

Demi mencari tahu sebenarnya pa yang terjadi dan bagaimana kabar sahabatnya Cut Nyak Dhien, Teungku Fakinah mengutus dua orang perempuan Bitai. Mereka berdua membawa pesan dari Teungku Fakinah untuk dismapaikan kepada Cut Nyak Dhien. “ Sampaikan pada Cut Nyak Dhien, Suruh datang suaminya Teuku Umar untuk berperang dengan perempuan-perempuan janda supaya orang dapat melihat keberaniannya, bahwa laki-laki melawan perempuan janda”. Hal tersebut adalah tantangan dan sekalugus ungkapan melecehkan.

Perempuan Bitai yang diutus itu ternyata tidak langsung menemui Cut Nyak Dhien, tetapi menyampaikan kepada perempuan lain yang dipercaya dan sering masuk ke rumah Cut Nyak Dhien. Begitu mendengar kabar tersebut hatinya sangat cemas, ia langsung menyruruh agar utusan Teungku Fakinah menemuinya secara langsung. Karena ditangkap takut mereka berdua tidak datang. Setelah dua hari ditunggu  akhirnya secara diam-diam Cut Nyak Dhien datang ke Bitai untuk menemui keduanya. Terpaksa Cut Nyak Dhien menggunakan perantara orang lain untuk mengatakan dia pertu bantuan dua perempuan tersebut memberi kabar balasan kepada sahabatnya Teungku Fakinah.

Esok paginya datanglah dua utusan tersebut ddan diterima dengan baik oleh Cut Nyak Dhien. Kemudian dua wanita itu disuruh balik ke Lam Krak tempat dimana Teungku Fakinah berada dengan membawa pesan balasan. Mereka pulang dengan bungong jaroe yaitu; 2 kayu kain hitam untuk celana, 6 potong selendang, 1 kayu kain untuk baju prajurit wanita dan 1 potong kain selimut untuk selimut Teungku Fakinah sendiri, serta uang 200 real untuk pembeli kapur dan sirih.

Ketika sudah bertemu Teungku Fakinah mereka menyampaikan pesan balasan. Cut Nyak Dhien tetap konsisten di jalan perjuangan seperti semula. Dia juga meminta maaf apa yang telah dilakukan suami yang telah berperosok. Begitulah cara patriotik sang Srikandi pejuang yaitu Teungku Fakinah dari Lam Krak dan Cut Nyak Dhien dari Lam Pisang. (Dari berbagai sumber/ ZA)