Advertisment

Riwayat Imam Syafi’I; Ahli Fiqh dan Sang Pujangga

  • 16 Maret 2017 - 16:32:33
  • Nasional
  • Admin
  • dibaca : 713

Kita menghina zaman, padahal kehinaan pada diri kita

Tidak ada kehinaan pada zaman, dan tidak pula pada yang lain

Suci bersih zaman ini, kalau dia bisa berkata kepada kita sucikanlah dirimu

Seekor serigala tidak akan memangsa temannya,

Sedangkan kita memangsa saudara sendiri

Penggalan syair diatas menghentak kesadaran kita atas berbagai persoalan yang kita hadapi sekarang ini. Baik dalam tingkatan regional Indonesia yang akhir-akhir ini tengah mengalami gejolak sosial, sementara dalam skala dunia Internasional khususnya Timur Tengah sebab perang yang terus berkecamuk. Kita terus disibukkan untuk mengulik dan mempermaslahkan zaman. Aksi saling klaim kebenaran dan egoisitas didpertontonkan dimana-mana, bahkan sampai tega saling membunuh. Syair tersebut jelas tidak muncul begitu saja tetapi lahir dari pengalaman dan perjalanan panjang, maka sangat wajar kalau masih sangat kontekstual dizaman sekarang.

Pengarang syair tersebut adalah Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafii al-Muththalibi al-Qurasyi atau lebih dikenal dengan Imam Syafii. Imam Syafii merupakan salah seorang Imam Madzab selain Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad. Beliau dilahirkan tahun 150 Hijriyah di Syam dari seorang Ibu bernama Fatimah al-Azdiyyah dan ayahnya Idris bin Abbas. Saat Imam Syafii  berusia 2 tahun ayahnya wafat, ibunya kemudian membawanya pindah ke Mekah dan hidup disana.

Sejak kecil Imam Syafii telah menghafalkan banyak syair dan pandai dalam kesusastraa Arab. Bakat kepenyairannya terus berkembang seiring pendalamannya terhadap keilmua ilmu fiqh. Beliau belajar fiqh sejak di Mekah kepada seorang mufti, sehingga tidak heran jika ketika baru umur 15 tahun sudah diberi izin oleh Muslim bin Khalid Az Zanji untuk memberi fatwa. Ilmu fiqh akhirnya menjadi bidang keilmuan yang paling ditekuni.

Selain kepada Muslim bin Khalid Az Zanji di Mekah Imam Syafii juga berguru dengan banyak ulama diantanya Dawud bin Abdurrahman Al-Atthar, Sufyan bin Uyainah, Abdurrahman bin Abi Bakr Al-Mulaiki, Said bin Salim, Fudhail bin Al-Ayyadl dan Muhammad bin Ali bin Syafi&rsquo yang merupakan pamnnya sendiri serta masih banyak lagi yang lainnya. Dia semakin menonjol dalam bidang ilmu fiqh.

Demi lebih memperdalam keilmuan fiqhnya Imam Syafii kemudian pergi ke Madinah dan belajar disana. Di Madinah berguru kepada kepada Imam Malik bin Anas. Ia mengaji kitab Muwattha kepada Imam Malik dan mampu menghafalnya hanya dalam waktu  9 malam. Beliau mampu memahami kitab karya Imam Malik tersebut dengan sangat cemerlang. Tidak hanya berhenti di Madinah kemudaian beliau pergi ke Makah dan mendatangi para ulama yang ada disana. Pengembaraannya kemudian dilanjutkan ke Baghdhad dan menetap di sana selama dua tahun sebelum akhirnya menetap di Mesir sampai akhir hayatnya yaitu bulan Rajab tahun 204 H.

Semasa hidupnya Imam Syafii telah menghasilkan ratusan karya diantaranya yang paling terkenal yaitu Ar-Risalah di bidang ushul fiqh dan Al-Umm dalam bidang fiqh. Hidup beliau lebih banyak dalam pengembaraan dan perjalanan untuk mencari ilmu. Hal demikian itu membuat beliau mendapat banyak pelajaran dan pengalaman. Beliau juga mengajarkan dan mewariskan  ilmu yang telah dipelajari kepada generasi penerusnya diantaranya yang paling menonjol adalah Ahmad bin Hambal, Al-Hasan bin Muhammad Az-Zafarani, Ishaq bin Rahawaih, Harmalah bin Yahya, Sulaiman bin Dawud Al Hasyimi dan Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi serta masih banyak yang lainnya. (Selma Hamida, Simpatisan PPP Jambi)

Kirim komentar