Advertisment

Seni Perjuangan Politik KH. Wahab Chasbullah

  • 18 Januari 2017 - 18:42:53
  • Nasional
  • Admin
  • dibaca : 273
Ujian dan cobaan datang bertubi-tubi, nah disinilah letak seninya perjuangan. Imam Ibnu ‘Athaillah berkata: Lā tastaghrib wuqū’al akhdhāri ma dumta fi hadza dāri (jangan kau kira suatu keanehan bila perjuangan itu diuji dengan kesukaran-kesukaran selama kau masih hidup di dunia ini). Karena itu pakailah ilmunya ikan yang hidup di laut. Biarpun sampai mencapai umur 50 tahun, selagi ikan paus itu masih bernyawa, ia tetap menjadi ikan yang dagingnya tawar. Tapi jika ikan itu mati, tidak lagi bernyawa, jangankan dalam waktu 10 tahun atau satu tahun bahkan sehari pun, meskipun untuk waktu dua menit jika kita letakan dia tas ceper yang di isi air garam ikan itu akan menjadi asin dagingnya. Faktor yang menyebabkan perubahan menjadi asin ialah daya tahan, karena nyawa sudah tidak ada lagi. Oleh karena itu, saudara-saudara mesti tetep berjiwa, tetap memiliki nyawa, memiliki roh Islam, agar tidak mudah di-Nippon-kan. Di zaman ini kita harus pandai berdiplomasi dalam menghadapi Nippon. Sama-sama bersuara Hu tetapi artinya bisa berbeda. Ada Hu yang artinya huntalen (telanla) da nada hu yang artinya huculono (lepaskan) (KH. Wahab Chasbullah. Jakarta 1943, disarikan dari Saifudin Zuhri, Berangkat dari Pesantren) (D’Jak)

Kirim komentar