Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Teror Gereja, PPP Minta Polri dan BIN Lakukan Pengawasan

12 Februari 2018 - 17:00:02 | 132

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Tragedi penganiayaan terhadap empat orang terjadi di Gereja St Lidwina, Jambon Trihanggo, Gamping, Sleman, DI Yogyakarta pada Minggu pagi (11/2) hangat diperbincangkan publik dan banyak diberitakan banyak media. Tragedi tersebut menelan empat korban, dua orang diantaranya merupakan jemaat gereja, seorang pendeta dan seorang polisi.

Merespon tragedi kemanusiaan itu, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M. Romahurmuziy menduga, penyerangan terhadap Pastor dan Jemaat Gereja Katolik St. Lidwina dilakukan secara sistematis. Karena sebelumnya juga terjadi penyerangan terhadap seorang ustadz di Jawa Barat.

“Melihat kejadian ini begitu berantai, saya menduga ini bukan kebetulan, ini adalah serangkaian kegiatan sistematis yang ditujukan untuk mendestabilisasi situasi dan kondisi,” ungkap M. Romahurmuziy.

M. Romahurmuziy menambahkan, kejadian tersebut merupakan pra kondisi atau cipta kondisi untuk mendestabilisasi Pilkada serentak 2018 maupun Pemilu Presiden (Pilpres) 2019.

Selain itu, M. Romahurmuziy mengingatkan kepada seluruh aparat Keamanan, dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) Pemerintah, khususnya Polri dan Badan Intelijen Negara (BIN) untuk bisa mendeteksi kejadian di lapangan sebelum peristiwa itu terjadi dan bisa melakukan pengawasan melekat kepada seluruh komponen komponen. 

M. Romahurmuziy menilai, rentetan kejadian tersebut bukan sekedar fenomena orang gila beneran. Akan tetapi, orang gila buatan dan bisa juga ini memang diniatkan untuk melakukan cipta kondisi akan terjadinya destabilitas pemerintahan.

“Kalau itu terjadi, masyarakat akan didorong dikondisikan untuk merasakan bahwa, oh ternyata kita butuh pemimpin yang kuat, kita butuh pemimpin dari yang memiliki latar belakang tertentu yang diharapkan bisa mengatasi semua kegaduhan dan instabilitas yang muncul,” ungkap Ketum PPP tersebut.

Ketum Romahurmuziy menilai dugaan itu tentunya didasarkan dari pengalaman sejarah, karena jelang Pak Harto Jatuh pada thn 1998, cipta kondisi beraneka rupa. Misalnya operasi hitam untuk mempertahankan rezim yang menjadi korban para ulama, sehingga dibutuhkan seorang pemimpin yang memiliki latar belakang kuat yaitu Soeharto.

Dengan kejadian tersebut, M. Romahurmuziy mengintruksikan PPP membentuk tim untuk melakukan investigasi mengenai asal muasal kejadian itu, sekaligus menelusuri apakah ini memang murni alamiah kejadian atau kejadian non alamiah yang diialamiahkan. (Ch)