Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Tiga Ulama Minang Penyebar Islam di Sulawesi

15 Juni 2017 - 16:27:07 | 932

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Menilik jejak sejarah Islam di Sulawesi Selatan, akan selalu diidentikkan dengan kedatangan tiga mubalig dari Minangkabau yakni Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro, dan Datuk ri Patimang. Kedatangan mereka pada abad ke-17 M. Islam masuk ke Sulawesi Selatan sebenarnya sudah ada  sejak abad ke- 16 M, namun penyebarannya belum begitu massif.

Kebanyakan sejarawan mencatat bahwa ketiga datuk itulah pembawa ajaran Islam pertama kali di tanah Sulawesi – Selatan. Nama mereka tercatat sebagai tokoh utama dalam penyebaran agama Islam. Namun, beberapa catatan dan tinggalan arkeologis menyebutkan adanya penyebaran Islam jauh sebelum ketiga Datuk itu. Adalah Sayyid Jamaluddin al- Akbar al-Husaini yang tiba dan menyebarkan Islam di Wajo pada tahun 1320, tiga abad sebelum kedatangan Datuk Tellue’.

Tiga ulama ini begitu sampai di Sulawesi tidak langsung berdakwah, akan tetapi lebih dulu menyusun strategi dakwah. Mereka mendapat keterangan bahwa raja yang paling dimuliakan dan dihormati adalah Datuk Luwu karena kerajaannya dianggap kerajaan tertua dan tempat asal nenek moyang raja-raja Sulawesi Selatan. Sedangkan yang paling kuat dan berpengaruh ialah Raja Tallo dan Raja Gowa.

Setelah mendapat informasi dan keterangan yang cukup, mereka berangkat ke Luwu untuk menemui Datuk Luwu, La Patiware Daeng Parabu. Mereka akhirnya berhasil mengislamkan elite-elite kerajaan Gowa-Tallo dan menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan pada tahun 1605. Datuk Luwu yang kemudian diberi nama Islam menjadi Sultan Muhammad Mahyuddin, sedangkan Raja Tallo Imalingkaan Daeng Mayonri Karaeng Katangka diberinama Sultan Abdullah Awalul Islam.

Setelah berhasil mengislamkan Datuk Luwu dan Raja Tallo, ketiga ulama ini kemudian menyebar dan membagi wilayah sasaran dakwah berdasarkan kondisi dan keahlian mereka. Abu Hamid mengemukakan dalam “Sistem Nilai Islam dalam Budaya Bugis – Makassar” sebagai berikut:

Datuk ri Bandang atau Khatib Tunggal yang ahli dalam ilmu fikih bertugas di Kerajaan Gowa – Tallo. Masyarakat yang dihadapi di kerajaan ini masih memegang kuat tradisi lama seperti perjudian, minum ballo’, dan sabung ayam. Untuk mengislamkan mereka, metode dakwah yang digunakan adalah dengan penegakan hukum syariat.

Datuk Patimang atau Khatib Sulung yang ahli tauhid bertugas di Kerajaan Luwu, karena kondisi masyarakatnya masih berpegang teguh pada kepercayaan nenek  moyang mereka yang menyembah Dewata Seuwae. Datuk Patimang mengajarkan tauhid sederhana seperti sifat – sifat tuhan. Penekanan tauhid ini untuk menggantikan Dewata Seuwae dengan konsep keimananan pada Allah Yang Maha Esa.

Datuk ri Tiro atau Khatib Bungsu yang ahli tasawuf bertugas di Bonto Tiro karena masyarakat di daerah tersebut masih memegang teguh ajaran – ajaran kebatinan dan sihir. Masyarakat di Bonto Tiro terkenal sering menggunakan ilmu sihir atau kekuatan sakti (doti) untuk membinasakan musuh. Mereka percaya bisa mengislamkan masyarakat seperti itu dengan ilmu tasawuf.

Ketiga Datuk ini menyebarkan Islam hingga menutup usia dan dimakamkan di wilayah tugas mereka masing – masing. Datuk ri Bandang wafat dan dimakamkan di wilayah Tallo. Makam Datuk ri Bandang kini berada di Jl. Sinassara, Tallo, Makassar. Khatib Sulung kemudian meneruskan syiar Islam ke rakyat Luwu, Suppa, Soppeng, Wajo dan beberapa kerajaan yang belum memeluk Islam. Khatib Sulung wafat dan dimakamkan di Desa Patimang, Luwu, karena itulah ia bergelar Datu Patimang.

Sementara Datuk ri Tiro wafat dan dimakamkan di Tiro atau sekarang Bonto Tiro. Makam Datu ri Tiro bisa dijumpai di Kelurahan Eka Tiro Kecamatan Bonto Tiro, Bulukumba. Untuk menghormati Datu ri Tiro, Pemerintah Kab. Bulukumba kemudian menamai Islamic Center yang baru dibangun dengan nama Islamic Center Datu Tiro. (Dari berbagai sumber/ ZA)