Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Wahai Kader PPP, Ini Ada Pesan dari Pak Ketum

15 Juli 2017 - 16:11:56 | 225

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Masyarakat tampaknya semakin apatis dengan demokrasi di Indonesia. Contonya dalam setiap pemilihan yang diselenggarakan negara atau daerah semakin banyak angka golput.

Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M Romahurmuziy mengeluhkan adanya kondisi seperti ini. Padahal adanya orang-orang yang ikut berpolitik tujuanya adalah memberikam kesejahteraan bagi penduduk Indonesia. Namun masyarakat banyak yang menilai hal itu mustahil dilakukan.

"Padahal berpolitik adalah tujuan pengantar, karena tujuan sesungguhnya dan akhirnya adalah kesejahteraan," ujar Romahurmuziy dalam pidatonya di pelantikan Pengurus DPW PPP Provinsu Riau, Periode 2016-2021 di Hotel Labersa, Riau, Sabtu (15/7).

Oleh sebab itu, anggota Komisi XI DPR itu mengajak para kadernya dan partai politik lainnya bisa mengubah persepsi masyarakat terhadap partai politik. Sehingga tidak mengurangi kualitas demokrasi pada setiap pemilihan. 

"Saya mengajak untuk turun karena sekarang tingkat partisipasi publik semakin menurun," katanya.

Pria yang akrab disama Romy ini menambahkan, pada saat orde baru dulu tingkat partisipasi masyarakat dalam ikut pemilihan umum sangat tinggi. Namun hal ini berbanding terbalik pada saat ini. Masyarakat banyak yang apatis sehingga semakin banyaknya angka golput.

Pria kelahiran Yogyakarta ini mengaku, ada tiga poin yang menyebabkan angka golput tinggi pertama adalah karena sakit, kedua kesibukan, dan ketiga adalah masyarakat yang apatis pemilihan tidak bisa mengubah bangsa Indonesia.

"Mereka (masyarakat) banyak yang berpikir adanya pemilihan tidak mengubah kesejahteraan dirinya," katanya.

Oleh sebab itu, lanjut dia, pola pikir masyarakat seperti ini harus diubah. Para kader PPP dan partai politik harus bisa berkomitmen dan bersungguh-sungguh mewujudkan masyarakat di Indonesia menjadi sejahtera.

"Oleh sebab itu apabila kesejahteraan masih jauh maka itu persoalan utama, karena persoalan utama di Indonesia adalah kemiskinanan, pengangguran dan itu harus bisa diatasi," pungkasnya. (Jawapos/TN)