Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Wawancara Ketum PPP Terkait 3 Tahun Pemerintahan Jokowi

10 Oktober 2017 - 21:02:44 | 520

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Ketum PPP M. Romahurmuziy menilai Presiden Joko Widodo mampu menjadi pemimpin yang kuat secara politik dalam 3 tahun pemerintahannya. Banyak warna dan hal baru yang lahir dalam pemerintahan Jokowi.

"Pertama, saya ingin menyampaikan di setiap perjalanan seorang pemimpin itu pasti ada pro dan kontra. Karena selalu ada yang suka dan selalu ada yang tidak suka. Kalau kita melihat kepemimpinan Pak Jokowi kan sebuah kepemimpinan yang melahirkan suatu kepemimpinan yang sering kali keluar dari fenomena baku yang terjadi di Indonesia," ujar Ketua Umum saat berbincang di kantor detikcom, Jalan Kapten Tendean, Jakarta Selatan, Selasa (10/10/2017).

Ketua Umum memandang Presiden Jokowi mampu melahirkan warna-warna yang tidak pernah ada di pemerintahan sebelumnya. Hal ini ditambah sosok Jokowi yang sangat dekat dengan masyarakat.

"Beliau merupakan orang yang sangat tidak formal, orang yang sangat tidak protokoler, beliau orang yang sangat mudah sekali dekat dengan rakyat. Dan beliau selalu menyuguhkan sesuatu yang baru, misalkan peringatan kemerdekaan kemarin, dengan berbagai penggunaan baju daerah yang tidak pernah dilakukan sebelumnya, sebelum peringatan beliau juga keliling ke semua audiens untuk bersalaman," jelasnya.

"Itu hal yang tidak pernah ditemui presiden-presiden sebelumnya. Nah secara umum, itulah kesan yang menyertai perjalanan Pak Jokowi. Di sisi lain, kita juga melihat bagaimana kinerja politik ekonomi-sosial-budaya-pertahanan di era Pak Jokowi. Mari kita evaluasi satu per satu," tambahnya.

Berikut ini wawancara Ketua Umum PPP selengkapnya:

Bagaimana melihat pemerintahan Jokowi dalam 3 tahun terakhir?

Pertama, saya ingin menyampaikan di setiap perjalanan seorang pemimpin itu pasti ada pro dan kontra. Karena selalu ada yang suka dan selalu ada yang tidak suka. Kalau kita melihat kepemimpinan Pak Jokowi kan sebuah kepemimpinan yang melahirkan suatu kepemimpinan yang sering kali keluar dari fenomena baku yang terjadi di Indonesia. Jadi saya melihat pemimpin seperti Pak Jokowi ini adalah pemimpin yang menyuguhkan warna-warna yang sebelumnya tidak ada. Sehingga ini merupakan hal yang sangat baru, beliau merupakan orang yang sangat tidak formal, orang yang sangat tidak protokoler, beliau orang yang sangat mudah sekali dekat dengan rakyat, dan beliau selalu menyuguhkan sesuatu yang baru misalkan peringatan kemerdekaan kemarin dengan berbagai penggunaan baju daerah yang tidak pernah dilakukan sebelumnya, sebelum peringatan beliau juga keliling ke semua audiens untuk bersalaman. Itu hal yang tidak pernah ditemui presiden-presiden sebelumnya. Nah secara umum itu lah kesan yang menyertai perjalanan Pak Jokowi. Di sisi lain kita juga melihat bagaimana kinerja politik ekonomi sosial budaya pertahanan di era Pak Jokowi. Mari kita evaluasi satu per satu.

Dari sisi politik kita lihat bahwa Pak Jokowi secara politik mampu menjadi pemimpin yang kuat karena sebelumnya diberangkatkan 4 partai politik, setidak-tidaknya hari ini sudah didukung 7 partai politik. Sehingga memang itu merupakan kemampuan Pak Jokowi melakukan pola politik nasional itu di atas rata-rata, sehingga mampu menyatukan 4 partai politik. Sebenarnya itu hal yang juga merupakan sesuatu yang tidak berlebihan karena setiap partai politik itu kan yang dituju adalah kekuasaan. Karena dengan kekuasaan yang dia pegang dia bisa mengimplementasikan apa yang dicita-citakan. Sehingga ketika tawaran atas kekuasaan itu datang pasti akan mudah gayung bersambut dibandingkan dia berada di luar. Karena oposisi politik itu kan bukan pilihan, oposisi politik itu kan konsekuensi dari kekalahan. Ketika sebuah partai politik mengambil politik bertarung menang dia akan berkuasa, kalah dia akan oposisi.

Nah apakah setelah dia menjadi oposan dia menikmati, ada yang bertahan ada yang tidak ? Itu dari sisi evaluasi politik yang pertama. 

Sisi yang kedua kita melihat bahwa kegaduhan itu terus muncul sepanjang pemerintahan Pak Jokowi ini. Kenapa, karena kontestasi memang dipelihara sejak pilpres itu. Karena memang pemain-pemain politik pada 2014 itu kemungkinan besar akan masih bertarung lagi pada 2019, sehingga wajar kalau fenomena dan branding itu masih berjalan, malah justru semakin dikuatkan. Itu dari sisi politik sehingga saya bisa katakan, 3 yang hari ini stereotyping dilakukan, branding kepada Pak Jokowi sebagai upaya pelemahan dan ini dalam politik wajar saja. Pertama adalah pro-RRC, prokomunisme, dan anti-Islam. Terakhir ini adalah pelemahan daya beli. Jadi sempurna sudah semuanya secara permainan ini dilakukan kapitalisasisnya, oleh siapa? Ya tentu lawan-lawan politiknya.

Tetapi ini tentu akan terjawab dengan meneropong politik ekonomi. Bagaimana ekonomi, ekonomi hari ini nyata-nyata, makroekonomi kita mungkin menjadi salah satu titik terbaik dalam sejarah republik. Inflasi yang rendah sepanjang republik, cadangan devisa yang terbesar sepanjang sejarah republik. Dan indeks harga saham gabungan juga sudah membuktikan rekor baru, sepanjang 2017 ini saja sudah 17 kali mencetak angka baru. Sehingga memang secara makroekonomi harus diakui memang memupus tren menurun pertumbuhan nasional dari triwulan III 2013, naik. Jadi sebenarnya adalah ekonomi fine, problemya adalah siapa yang menikmati. Nah yang menikmati sejauh ini adalah level BUMN, dan kemudian level grasroot dengan alokasi dana desa. Maka di titik menengah ini lah muncul dan disuarakan dengan melemahnya daya beli, sebenarnya daya beli kelas menengah. Karena di level grasroot alokasi dana desa yang menyita dana kurang-lebih Rp 70 triliun adalah yang pertama kali dalam sejarah. Sehingga memang di level grassroot daya beli relatif naik. Di tingkat paling atas BUMN terutama itu mendapat banyak sekali pekerjaan dengan infrastruktur, tapi yang problem di menengah, nah ini yang harus dijawab oleh presiden nanti.

Nah kemudian di bidang sosial budaya saya kira selama ini Pancasila yang selama ini sudah hanya sekedar hanya menjadi dasar negara, di era Pak Jokowi ini dikulturisasi, jadi dibudidayakan dengan pembentukan APBIP dengan adanya kemudian perajutan kembali kebinekaan kita, itu bagus. Karena kemudian memunculkan format Pancasila dalam generasi milenial. Meskipun ini tentu disuarakan minor oleh kelompok-kelompok yang sekali lagi, yang memang tidak sejalan dengan politik presiden.

Nah kemudian di bidang hankam saya kira datar-datar, artinya kalau kita lihat angka prevalensi narkoba menurun, itu kan hal-hal yang semakin baik negara ini mengelola pertahanan dan keamanan. Dan isu separatisme ini juga relatif landai, kemudian hal-hal yang terkait primordialitas kedaerahan juga semakin melandai. Jadi saya melihat dari tinjauan sosbud hankamnas meskipun ada pro dan kontra trennya positif.

Di bidang infrastruktur sepertinya masih setengah jalan, lalu bagaimana dampaknya, apakah sudah dirasakan bisa membahagiakan masyarakat?

Kalau membahagiakan atau tidak relatif ya, karena semua pembangunan infrastruktur itu jangka menengah. Sudah pasti dampaknya akan terpotret nanti di 2018 akhir atau 2019 awal, karena presiden mulai pada tahun 2015. Sehingga rakyat akan bahagia atau tidak itu akan tercermin setelah pembangunan jangka menengah ini kelihatan hasilnya. Sehingga kalau mengukur hari ini mungkin akan sangat berbeda dengan setahun kemudian atau Desember 2018. Sehingga kalau kita mau mengukur 3 tahun ini mungkin kebahagiaan itu merupakan kebahagiaan yang tertahan di level menengah. Di level grassroot dengan adanya alokasi dana desa, dengan adanya aneka kartu sakti mulai Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sejahtera, itu sebenarnya cukup menghibur masyarakat, apalagi basis program keluarga harapan itu jumlahnya sangat besar, 6 juta kepala keluarga, dan tahun depan akan naik 10 juta. Jadi sebenarnya di level bawah, sekali lagi saya katakan mereka relatif penerimaan kepada Pak Jokowi semakin baik. Yang masih menjadi pekerjaan rumah hari ini kelas menengah. Ini yang harus dikejar. (detik/ZA)