Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Wayang Klithik Media Syiar Sunan Kudus

14 Juni 2017 - 21:33:51 | 519

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Jawa memang kental dengan produk keseniannya, maka tidak heran jika Sunan Kudus yang masuk ke generasi akhir Wali Sanga memang memilih media seni dan budaya dalam melakukan ceramah agama. Satu dari sekian wujud kesenian yang bisa ditemui di tanah leluhur ini adalah kesenian wayang. Wajar saja Wayang Klithik dipakai sebagai alat syiarnya sehingga dapat menarik masyarakat untuk mendengarkan ceramahnya.

Sebenarnya Sunan Kudus juga banyak mewariskan kesenian lain yang mengandung nilai Islami. Misalnya tembang macapat maskumambang yang menekankan welas asih. Namun yang popular dikenal sebagai warisan Sunan Kudus adalah Wayang Klithik.

Wayang Klithik adalah Wayang yang terbuat dari kayu. Wayang klitik terbuat dari kayu pipih yang dibentuk dan disungging menyerupai Wayang Kulit Purwa. Pada Wayang Klitik, cempuritnya merupakan kelanjutan dari bahan kayu pembuatan wayangnya. Wayang ini diciptakan orang pada tahun 1648.

Satu kelompok kesenian wayang klitik biasanya berjumlah 18 orang, yang dipimpin langsung oleh sang dalang dengan dibantu asistennya. Sisanya adalah 2 orang pesinden dan para penabuh gamelan. Wayang Klithik diciptakan oleh Sunan Kudus pada kurun abad 16-17 dan dipergunakan sebagai sarana dakwah Islam. Selain disebut wayang klithik wayang ini disebut juga dengan wayang Krucil karena wayang ini bentuknya kecil.

Sunan Kudus  bekerja sama dengan tokoh lain yang dikenal sebagai Kiai Telingsing untuk membuat wayang dari kayu. Kiai Telingsing memang dikenal sebagai tokoh yang pandai membuat ukiran. Menurut catatan, Telingsing merupakan pendatang dari Yunnan, Tiongkok. Kiai yang juga punya nama asli Sun Gin An itu memang disebut ahli mengukir. Riwayat lain mengetahui ada yang menyatakan bahwa oleh Pangeran Pekik Adipati Surabaya.

Sampai sekarang wayang klithik yang masih bertahan berasal dari Desa Wonosoco, Undaan, Kudus. Penduduk desa setempat tak pernah alpa menggelarnya. hanya karena keinginan masyarakatnya menjaga kesenian khas mereka. (Dari berbagai sumber/ ZA)