Bertemu Tokoh Agama, Ketum PPP Usulkan Majene Miliki Banyak Madrasah Diniyah

40
PPP
Dok. PPP

http://PPP.OR.ID , Majene – Ketua Umum PPP, M. Rumahurmuziy (Gus Rommy) bertemu tokoh agama di Kabupaten Majene Sulawesi Barat (Sulbar). Kepada para tokoh agama tersebut, Gus Rommy menyampaikan Majene perlu mempunyai banyak madrasah diniyah.

Menurut Gus Rommy, dengan demikian anak-anak di Majene bisa mengenyam pendidikan agama yang baik di samping bangku pendidikan umum. Apalagi menurutnya, 98 persen penduduk Majene beragama Islam.

“Bahkan kalau perlu ada Perda yang mewajibkan siswa SD untuk juga masuk madrasah diniwah awaliyah, dan siswa SMP belajar di madrasah wushto, sedangkan SMA juga belajar di madrasah ulya,” kata Gus Rommy dalam keterangan tertulis, Jumat (9/11/2018).

Dalam silaturahmi yang bertepatan dengan awal bulan Robi’ul Awal atau yang dikenal juga dengan bulan Maulid ini, Gus Rommy juga menyampaikan sejumlah pesan terkait pentingnya meneladani Rasulullah Muhammad SAW.

“Nabi Muhammad adalah manusia paripurna. Ia adalah sosok pembawa risalah agama Islam, sekaligus merupakan pemimpin politik dan juga seorang pedagang,” katanya.

Gus Rommy menjelaskan bahwa, dari sosok Rasulullah setidaknya diketahui bahwa perlu keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Manusia tidak bisa hanya memperhatikan kehidupan mereka di dunia, namun juga masa depan mereka di akhirat.

Untuk itulah dirinya berharap antara pendidikan agama dan pendidikan umum bisa berjalan seimbang di tengah masyarakat.

“Di Majene ini berdasarkan informasi baru ada dua pondok pesantren. Menurut saya jumlah ini masih kurang untuk jumlah penduduk yang mencapai 200 ribu jiwa,” katanya.

Menurut Gus Rommy, pendidikan agama adalah benteng agar Indonesia yang mayoritas Islam tetap terus bisa mempertahankan nuansa kehidupan beragama hingga akhir zaman. Sebab ini melihat banyak negara muslim yang saat ini kehidupan beragamanya sudah tak terlihat lagi.

Ia mencontohkan Azerbaijan yang mayoritas muslim, namun masjid sudah kosong tanpa kegiatan ibadah. Umatnya juga kebanyakan tidak menjalankan kewajiban dan meninggalkan larangan yang sudah diatur oleh agama. Ia tak ingin Indonesia di kemudian hari mengalami hal yang sama. (Sk)