Bukan Penista Agama, Romahurmuziy : PPP Selalu Perjuangkan Syariat Islam

29
PPP
Foto : Istimewa

http://PPP.OR.ID , Jakarta – Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), M. Romahurmuziy menyayangkan adanya propaganda yang menyebut PPP salah satu partai penista agama. Padahal, selama ini PPP berada di garda terdepan mewujudkan UU atau Perda bernuasa agama (syariah) dan alokasi anggaran untuk umat.

“Perjuangan PPP menegakkan UU atau Perda bernuasa Islam sudah dilakukan sejak partai ini didirikan para ulama pada 1973 lalu dan terus berlangsung hingga saat ini,” kata Ketum PPP yang akrab disapa Gus Rommy.

Gus Rommy mencontohkan, saat baru berdiri, PPP sudah menginsiasi UU Perkawinan dan UU Penertiban Perjudian pada 1974. Di masa reformasi, ada UU Pengelolaan Zakat yang berhasil di perjuangkan PPP. Begitu juga dengan UU anti Pornografi di saat banyak partai yang tidak menyetujuinya.

PPP sejak 2013 juga menginsiasi lahirnya RUU Pesantren dan Lembaga Pendidikan Keagamaan. Dan saat ini memimpin Pansus RUU Anti Miras.  Di politik anggaran, PPP juga yang mendorong naiknya honor penyuluh agama sebesar 100% dan tunjangan untuk para guru di lingkungan Kementerian Agama.

“Bagi PPP sebagai partai Islam, memperjuangkan tegaknya Islam secara konstitusional merupakan farduh kifayah,” tambah Gus Rommy.

Sementara itu jika ukuran ‘partai penista agama’ adalah pendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Pilkada DKI Jakarta pada 2016 dan 2017 lalu,  Gus Rommy menegaskan bahwa PPP tidak mendukung Ahok saat itu.

Rommy bahkan menyebut bahwa pidato Habib Rizieq Shihab (RHS) di aksi 212 Minggu (2/12/2018) juga tidak menyebut PPP sebagai partai penista agama.

“Yang disampaikan HRS sama sekali tidak dimaksudkan untuk PPP, karena pada Pilkada DKI 2016-17, kami tidak mengusung Ahok. Sebaiknya ditanyakan, partai mana yang dimaksudkan HRS,” kata Gus Rommy.

Bahkan Gus Rommy mempertanyakan track record perjuangan politik keislaman partai-partai yang menyebut dirinya sebagai pembela Islam. Jika partai-partai itu mendukung tegaknya hukum Islam, mereka tentu akan mendukung pembahasan RUU Anti Miras, karena al-Qur’an jelas melarang untuk konsumsi minuman keras. (rel/Sk)