Fraksi PPP DPR Tengahi Pro Kontra Kasus Dokter Terawan

50

PPP.OR.ID – Kabar pemecatan Mayor Jenderal TNI Dokter Terawan Agus Putranto dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyulut pro kontra di tengah masyarakat.

Pasalnya, selama ini dokter Terawan dinilai terbukti menyembuhkan banyak pasien melalui terapi ‘cuci otak’ di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto. Bahkan pasiennya adalah orang-orang terkenal seperti Aburizal Bakrie, hingga istri Mahfud MD.

Anggota Komisi DPR Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Okky Asokawati mengungkapkan, dalam menyikapi hal ini, masyarakat jangan terjebak pada pro dan kontra. Masyarakat perlu melihat semuanya dengan bijak dan holistik.

“Dokter Terawan dalam praktik “Brain Wash” nya telah memunculkan berbagai testimoni positif dari berbagai kalangan akan manfaat dan kedayagunaannya bagi kesehatan pasien. Ini fakta yang tidak bisa ditutupi,” kata Srikandi PPP itu, Jumat (6/4/2018).

Kendati demikian, persoalan etik yang menjerat Dokter Terawan juga fakta yang juga tidak bisa ditutupi. Persoalan internal di profesi dokter ini juga harus mendapat perhatian serius, khususnya oleh dokter Terawan.

Okky menambahkan, putusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) yang mencabut izin sementara selama 12 bulan terhadap Dokter Terawan yang merupakan sanksi dalam kategori pelanggaran berat (Pasal 29 ayat 4 huruf f angka 4 tentang Pedoman MKEK) harus dilihat secara holistik. Karena hal itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penegakan etik profesi dokter.

“Saya menyarankan kepada kedua belah pihak, untuk lebih mengedepankan kearifan dan penghormatan atas posisi masing-masing. Mengabaikan keberadaan MKEK tentu merupakan tindakan yang tidak tepat, karena akan menjadi preseden buruk atas supremasi etik bagi profesi dokter. Namun, mengabaikan kontribusi atas temuan dan praktik Dokter Terawan juga sikap yang bertolak belakang dari kenyataan di lapangan,” tuturnya.

Okky Asokawati berharap, agar IDI turut menyelesaikan persoalan ini dengan cara arif dan bijaksana dengan mengedepankan semangat penegakan etik serta perlindungan konsumen.

Sebagaimana diketahui, dokter Terawan yang merupakan kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, menggunakan metode Digital Subtraction Angiography (DSA) atau yang sering disebut ‘cuci otak’, untuk berbagai pengobatan, terutama stroke. Ia juga mematenkan penemuannya itu di luar negeri. (Ay)