Ghiroh Dasar Islam Sebagai Agama Pembebasan

    58

    PPP.OR.ID – Sebuah hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa Islam merupakan agama kontekstual. Sejak masa Nabi Muhammad SAW, Islam telah hadir dengan semangat revolusioner sebagai agama pembebas. Praktik perbudakan, diskriminasi terhadap perempuan dan budaya jahiliyah dihapuskan. Ketauhidan menjadi bentuk pembebasan hakiki bagi manusia, sebab dengan ketauhidan berarti ia telah manyatakan diri merdeka dari segala perbudakan dan diskriminsi. Artinya ketundukan dan keimanan kepada Allah SWT adalah pembebas.

    Islam hadir di  tengah-tengah masayarakat kecil bukan kalangan elit, dibawa oleh seorang penggembala yang ummi. Hal itu menunjukkan bahwa semangat asal mula Islam begitu merakyat dan peduli terhadap golongan masyarakat tingkat bawah. Sebagaimana pendapat Asghar Ali Engineer agama sudah seharusnya berpihak kepada kaum tertindas dan berusaha mewujudkan tatanan sosial yang egaliter serta membebaskan dari penindasan. Konteks kehadiran yang demikian untuk memberikan pesan kuat teologi Islam tidak berjarak dengan masyarakat. Seandainya bukan Nabi Muhammad SAW yang membawa agama Islam tetapi kalangan elit, tentu Islam akan susah diterima dan tidak berkembang seperti sekarang ini.

    Berbagai kebuntuan yang dihadapi oleh masyarakat mampu diselesaikan oleh Islam dengan menghadirkan solusi-solusi releavan dan akomodatif. Kita sudah melihat bagaimana Islam menjadi pembebas bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan melalui resolusi jihad yang diserukan oleh ulama. Semangat melawan penjajah saat itu adalah transformasi ajaran Islam dalam kehidupan sosial masyarakat.

    Perwujudan keimanan dalam Islam bukan hanya terbatas pada peribadatan formal sesuai ketentuan sayariat saja, melainkan juga meliputi ibadah sosial. Bentuk dari ibadah tersebut antaralain dengan menolong  martabat orang-orang miskin dengan zakat. Pembelaan Islam terhadap orang –orang tertindas juga diwujudkan dengan menghapuskan sistem perbudakan secara gradual, itu sudah dimulai oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Dalam sejarah kita melihat bagaiamana sahabat Bilal saat itu seorang budak mendapat perlakuan mulia dan menjadi muadzin msayarakat Madinah. Begitulah Islam memperlakukan semua manusia setara, tidak dilihat dari kedudukan, harta ataupun keturunan darahnya.

    Genetika dasar kehadiran Islam sebagai agama pembebas ini sudah selayaknya dipahami dan terus diaplikasikan dalam berbagai lini kehidupan sosila masayarakat. Ghiroh pembebasan yang dibawa Islam bisa dikonstruk dan aplikasikan untuk mengadirkan solusi relevan. Seorang muslim harus bertindak bagi terwujudnya tatanan sosial masayarakat yang berkeadilan dan bebeas dari perbudakan. Inilah yang dibutuhkan oleh masyarakat dunia dewasa ini untuk mengatasi berbagai kesenjangan ekonomi, sosial dan politik. (ZA)