Haji Agus Salim Enggan Sekolahkan Anak-anaknya

125

Haji Agus Salim, tokoh bangsa yang dijuluki Orang Tua Besar (The Grand Old Man) itu memiliki perspektif yang relatif berbeda dengan para pemimpin bangsa lainnya yang hidup sezaman dengannya. Pada awal abad ke-20, hampir semua tokoh bangsa menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang yang paling tinggi. Bahkan tak sedikit yang menyekolahkannya hingga ke luar negeri. Namun tidak bagi Haji Agus Salim. Bukan karena ia tak mampu membiayai pendidikan putra-putrinya, namun ia beranggapan sekolah kolonial tak membuat anak mandiri. Karenanya ia sendiri yang menjadi ‘sekolah’ bagi anak-anaknya. Ia yang mengajarkan anak-anaknya sendiri.

Menurut Siti Asiah, putri Haji Agus Salim, ketujuh anak Haji Agus Salim tak pernah mengenyam bangku pendidikan formal, kecuali si bungsu Mansur Abdur Rachman Ciddiq. Haji Agus Salim bersama istrinya, Zainatun Nahar ‘lah yang mengajarkan anak-anaknya secara bergantian. Pendidikan ala keluarga Haji Agus Salim biasanya berlangsung sambil bermain atau ketika sedang makan.

Menurut Siti Asiah atau yang akrab disapa Bibsy, paatje dan maatje (panggilan untuk ayah dan ibunya) sering menyanyikan lagu-lagu yang liriknya diambil dari karya sastrawan dunia. Selain itu, ayahnya juga pandai bercanda, sehingga bisa memikat dan tak membosankan.

Salah satu perhatian Haji Agus Salim dalam mendidik anak-anaknya adalah dalam kemampuan bahasa asing. Sebab, bahasa asing adalah jendela bagi ilmu dan wawasan dunia. Apalagi, Haji Agus Salim sendiri adalah sedikit dari orang Indonesia yang fasih berbicara dalam sembilan bahasa asing. Selain Bahasa Melayu dan Bahasa Minang yang menjadi bahasa ibunya, Salim juga menguasai Bahasa Belanda, Arab, Inggris, Jepang, Prancis, Jerman, Mandarin, Latin, Jepang dan Turki. Ia juga menguasai beberapa bahasa daerah, seperti Bahasa Jawa dan Sunda. Adapun untuk melatih kemampuan berbahasa anak-anaknya sedari kecil, Haji Agus Salim tercatat telah mengajak anak-anaknya berbicara Bahasa Belanda sejak kecil, sehingga bahasa itu ibarat bahasa ibu mereka.

Pendidikan home schooling ala Haji Agus Salim tak semata-mata membuat anak pintar, namun juga memperhatikan pertumbuhan jiwa mereka. Ia bersama istrinya tak menginginkan anak-anak terkekang oleh kehendak orang tua. Oleh karenanya, ia mengharamkan memberi kualifikasi seperti “kamu nakal” atau “kamu jahat” kepada anak-anaknya.

Meski tak mengenyam pendidikan formal, namun anak-anak Haji Agus Salim bisa tumbuh sebagai sosok-sosok hebat dan cerdas. Ketika W.R. Supratman memainkan lagu Indonesia Raya dengan biola, putri tertuanya Dolly -yang ketika itu berusia 15 tahun, mengiringinya dengan piano. Sedangkan putranya, Islam Besari Salim, terjun di dunia militer dan sempat menjadi atase militer Indonesia di China. (Kompasiana/tran)