Hari Santri Nasional 2018; Jokowi Kenang Peran Ulama Untuk Persatuan Indonesia

235
HSN
Dok. PPP

PPP.OR.ID , Bandung – Presiden Jokowi yang didampingi Ketua Umum PPP, M Romahurmuziy pada acara malam puncak peringatan Hari Santri Nasional 2018 di lapangan Gasibu Bandung mengingatkan bahwa, di tengah serangan faham radikal semangat persatuan dalam berbangsa dan bernegara harus dijaga lebih kuat. Menurut Jokowi, salah satu elemen bangsa yang berhasil mengawinkan keberagamaan dan semangat kebangsaan adalah kaum santri, Minggu (21/10) pukul 19.30 WIB.

Presiden Jokowi yang hadir dengan mengenakan sarung, peci, dan baju koko dibalut jas hitam bersama Gus Rommy yang juga memakai sorban dan sarung, meminta semua elemen bangsa menjaga rumah bersama yang bernama NKRI.

“Aset kita yang terbesar adalah persatuan, kerukunan, dan persaudaraan, maka mari kita jaga ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wataniyah,” kata Jokowi di hadapan 10 ribu pengunjung yang memadati lapangan Gasibu sejak sore.

Indonesia, lanjut Jokowi, adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia dan salah satu elemen terpenting yang menjaga keutuhan NKRI adalah kaum santri. “Kita patut bersukur karena bangsa indonesia dipandu tradisi kesantrian yang kuat,” imbuhnya.

Menurut Presiden, persatuan Indonesia yang terbangun sejauh ini tak lepas dari peran ulama. Sejarah mencatat peran besar mereka pada masa perjuangan kemerdekaan kemudian menjaga pancasila, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam pidatonya Jokowi menyampaikan, peringatan Hari Santri Nasional merupakan penghormatan dan rasa terima kasih negara kepada para alim ulama, kiyai, habaib, ajengan dan para santri serta seluruh komponen bangsa yang mengikuti keteladanan mereka. “Menjadi santri adalah menjadi islam yang cinta bangsa, muslim yang relijius, dan pelajar yang ahlaqul karimah sebagaimana diteladankan para kiyai kita,”  katanya.

Untuk itu, pemerintah telah memiliki beberapa program yang mendorong kemajuan pesantren secara kongkrit, misalnya Bank Wakaf Mikro dan Balai Latihan Ketrampilan yang saat ini tengah diuji coba. “Kita akan terus mengevaluasi apakah itu semua berguna atau tidak. Persaingan antar negara yang begitu ketat membutuhkan sumberdaya manusia yang tidak saja berahlaqul karimah tetapi juga berskill tinggi,” pungkasnya. (Sk)