Ketum Pertanyakan Pengetahuan Sejarah Islam Neno Warisman

72
PPP
M Romahurmuziy. Dok. PPP

PPP.OR.ID, Yogyakarta – Ketua umum PPP, M Romahurmuzy heran dengan ungkapan Neno Warisman yang mengatakan, Pemilihan Presiden kali ini layaknya perang Badar, yakni perang umat Islam pada masa Nabi Muhammad SAW masih hidup.

Menurut Gus Rommy, Makom Neno Warisman tersebut sangat jauh dengan Makom Nabi Muhammad SAW. Sehingga ketika Neno Warisman menyikir doa Nabi Muhammad SAW yang memang itu dilakukan pada saat perang Badar, di mana Nabi berdoa seandainya umat Islam kalah dalam perang tersebut, maka siapa lagi yang akan menyembah Allah. Namun ketika doa tersebut digunakan dalam instalasi politik, yang jelas Munajat 212 itu tokoh-tokoh politik semua menjadi sangat-sangat tidak tepat dan politisasi agama secara membabi buta.

Gus Rommy mengingatkan, jika politisasi agama dilakukan secara membabi buta, maka akan merendahkan umat itu sendiri. Ia masih ingat ketika Amin Rais mengatakan konstelasi politik dalam Pilpres kali ini adalah layaknya perang badar. Agaknya ungkapan tersebut kurang tepat, sebab masing-masing merupakan partisan. Hal ini jelas menimbulkan tanya tentang pemahaman sejarah Islam.

Kendati terus diserang, namun Gus Rommy dan pasangan nomor urut 01 akan tetap berpolitik secara santun. Karena masyarakat saat ini membutuhkan konstetansi yang aman, sejuk dan damai. Jika para pasangan calon presiden nomor 02 hobinya menyerang dan menjelek-jelekkan, maka menurut Gus Rommy karena memang seperti itu yang bisa mereka lakukan.

Sebab, menurutnya pasangan Prabowo-Sandi tidak memiliki prestasi apapun yang mencolok dalam memimpin negara Indonesia. Maka wajar jika yang mereka lakukan adalah menyerang pasangan 01, yaitu dengan mengklaim-klaim saja. Jika pasangan nomor urut 02 melakukan klaim, maka sudah seharusnya pasangan nomor urut 01 melakukan perlawanan.

Pilpres ini hanyalah pertarungan biasa, karena ketika diantara pasangan nomor urut 01 ada yang benar, maka dipasangan 02 juga ada yang benar. Ketika dipasangan nomor urut 02 ada ulama, maka dipasangan nomor urut 01 juga ada ulama. Gus Rommy mengajak untuk bersaing dengan benar dan secara sehat. Dia mengajak agar tidak mengintimidasi masyarakat dengan konstalasi negatif sehingga membuat rakyat semakin resah.

Gus Rommy juga khawatir jika hal tersebut terus dilakukan, maka partisipasi pemilih yang sebelumnya mencapai 75 persen akan turun karena kekhawatiran rakyat akan hasil pemilihan akan mendapatkan pemimpin yang jelek gara-gara konstelasi negatif tersebut. Seorang pemimpin seharusnya membangun mimpi rakyat, bukan menakut-nakuti rakyat.

·         Ajak Ulama Ikut Tangkal Hoaks

Gus Rommy yang juga Ketua Dewan Pembina Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (Madani), mengajak para kiai dan ulama turun gunung untuk menangkal hoaks. Terkait viralnya doa Neno Warisman, Ketua Umum PPP itu menyinggung kasus hoax Ratna Sarumpaet.
Bagi dia, kiai adalah tokoh yang masih diikuti oleh masyarakat terkait dengan seruan moral, seruan anti hoaks ini seruan moral. Gus Rommy pun menyinggung sosok Amien Rais hingga Prabowo yang termakan oleh hoaks Ratna. Menurutnya, meski dengan kedudukan, jabatan, dan status sosial mereka yang tinggi di masyarakat, namun tidak bisa diharapkan oleh masyarakat untuk menangkal hoaks.

Kita melihat hari ini kelas tokoh kaliber politik seperti Pak Amien, Prabowo, Fadli dan Fahri Hamzah yang pimpinan DPR saja, termakan dengan hoax yang Ratna Sarumpaet ucapkan. Artinya, menurut Gus Rommy rakyat tidak bisa banyak berharap lagi kepada mereka-mereka yang ketika kedudukan dan jabatan publik, status sosial begitu tinggi ternyata masih terjebak dengan hoax, dengan permainan-permainan yang bersifat fitnah.

Oleh sebab itu, peran kiai sebagai tokoh-tokoh moral menjadi penting untuk turun gunung mengkampanyekan anti hoaks, untuk mengajak pemilih menjadi pemilih cerdas. Gus Rommy juga berharap para kiai dan ulama se-Indonesia bisa melakukan hal serupa untuk mengkampanyekan anti hoax dan fitnah. (sk)