KH. Muhammad Basri, Ulama Ahli Debat yang Sederhana

370

PPP.OR.ID – KH. Muhammad Basri atau lebih dikenal sangat kharismatik. Ia dilahirkan pada tahun 1922 di Kampung Kadaung, sebuah dusun terpencil berjarak sekitar 40 km dari pusat Kota Bogor dan termasuk ke dalam wilayah Desa Rengasjajar Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor. Ibunya Hajjah Aemi dan ayahnya KH. Abdurrahman merupakan pengasuh pesantren Ma`hadul yang saat ini telah berganti nama menjadi Pesantren Al-Basriyyah.

Beliau memperoleh pengetahuan ilmu agama dari ayahnya. Dalam keseharian KH. Muhammad Basri  deikenal sebagai sosok sederhana ini telah dikenal bakat kecerdasan dan kepemimpinannya sejak ia berusia remaja.  Beliau juga memperoleh pendidakan agama dibeberapa pesantren di tanah Jawa, di antaranya di Pesantren Temanggungan Tangerang, Pesantren Nurul Falah di daerah Petir Banten. Demikianlah rantai intelektual sebagai ulama dibangun oleh beliau dengan menjdai santri dibeberapa pesantren.

Beliau juga menuntut ilmu di Pesantren Gentur Cianjur kepada Mama Ajengan Syatibi, lalu melanjutkan di pesantren Tasikmalaya yaitu di Singaparna di bawah bimbingan KH. Zainal Mustofa. Diabawah asuhan KH. Zainal Mustofa menerima pelajaran berharga saat penjajahan Jepang, yaitu menolak melakuan seikerei dan mencintai tanah air. Hal tersebut membuat beliu terbentuk menjadi pribadi yang teguh menjaga kemurnian tauhid dan memiliki semangat kebangsaan yang tinggi. Kiprah KH. Muhammad Basri melawan kolonialisame begitu teguh. Beliau juag berperan aktif melawan ideology komunis.

Setelah pulang dari nyantri dibeberapa pesantren, beliau diberi kepercayaan oleh ayahnya untuk mengajar para santri, padahal usianya saat itu masih relative muda. Kala itu beliau dikenal dengan keahliannya secara luas sebagai kiai muda yang memiliki kedalaman ilmu serta kemampuan debat yang luar biasa. Kemampuannya dalam berdebat itu menarik perhatian banyak kalangan, diantaranya KH. Wahid Hasyim, Mohammad Roem, Mohammad Natsir dan KH. Idham Kholid.

Dalam bidang organisasi beliau sempat aktif dalam organisasi NU dan Partai Masyumi.  Kepiawaiannya dalam berpidato didepan umum, mengantarkan menjadi Anggota MPR RI. Meskipun begitu beliau tidak lantas menjadikan dirinya berubah, beliau tetap berperilaku sederhana dan tidak mengubah kedekatan serta kecintaannya kepada masyarakat.

KH. Muhammad Basri wafat pada tahun 1993 M, namun semangatnya tetap hidup dan dihidupkan oleh keturunan dan murid-muridnya yang ingin senantiasa menghidupkan semangat syiar Islam yang membawa kemaslahatan bagi umat manusia. (Dari berbagai sumber/ ZA)