Kisah Caleg PPP, Eha Soleha: Miliki Potensi yang Tak Dimiliki Caleg Lain

794
PPP
Dok. PPP

PPP.OR.ID, Cilegon – Ada anggapan di masyarakat kalau ingin maju sebagai caleg harus memiliki modal besar. Hal itu dikarenakan biaya kampanye untuk maju sebagai caleg harus mengeluarkan ongkos yang cukup besar.

Hal tersebut ditepis oleh caleg asal Cilegon, Eha Soleha, pedagang kopi keliling yang maju sebagai caleg DPRD Kota Cilegon.

Eha memberanikan diri maju sebagai caleg dari PPP meski tidak memiliki modal. Dalam program tayangan Mata Najwa yang tayang di Trans7, Kamis (7/3/2019, Eha Soleha menceritakan bagaimana dirinya bisa maju sebagai caleg.

Selama 3 tahun ini, Eha Soleha bekerja sebagai pedagang kopi keliling. Ia berdagang kopi di pasar mulai dari tengah malam hingga pagi hari. Saat berjualan, dirinya tiba-tiba diajak oleh pelanggan istimewanya untuk maju sebagai caleg.
“Yang ngajak saya nyaleg itu pelanggan kopi saya, dia pelanggan istimewa yang ternyata Ketua DPC PPP,” kata Eha Soleha dalam acara yang dipandu Najwa Shihab itu.

Eka yang seorang janda ini mengaku diajak maju sebagai caleg karena dianggap menginspirasi. Mulanya Eha berterus terang bahwa dirinya tak punya uang untuk nyaleg, namun pelanggannya terus membujuk hingga Eha bersedia.

Eha juga menuturkan bahwa dirinya terus mendapatkan motivasi, bahwa politik bukan milik orang kaya saja, tapi hak semua orang.

Saat memulai kampanye, Eha Soleha harus melalui rintangan yang cukup berat. Ia kerap pendapat cibiran dari orang-orang karena dirinya tidak memiliki modal. Ia juga sempat diremehkan orang lain karena dirinya tak punya banyak uang.

“Kata orang, saya ada uang gak. Gak ada, saya bilang. Terus dia bilang, ‘Ah kalau gak ada uang gak mau milih.’. Tapi temen saya beri semangat, saya didoain semoga orang-orang pada milih saya,” ungkapnya.

Eha Soleha mengkampanyekan dirinya sembari berjualan kopi, dengan menyebarkan kartu nama kepada pelanggannya. Kadang ia juga menempelkan stiker ke rumah-rumah warga.

“Ke kampung door to door tempel stiker di rumah tetangga atau teman. Gak ada yang protes, tapi seminggu kemudian gambar saya dilepas,” ucapnya sambil tertawa.

Menanggapi fenomena ini, Direktur Charta Politika, Yunarto Wijaya memberikan konsultasi kepada caleg penjual kopi keliling. Ia menyarankan agar Eha Soleha tetap mempertahankan kebersahajaannya.

“Bu Eha memiliki potensi yang jarang dimiliki politisi lainnya. Bu Eha bisa menjadi billboard berjalan. Jadi harus berani gunakan atribut yang langsung menyatakan ‘saya adalah caleg‘,” katanya.

Selain itu, Yunarto Wijaya juga menyarankan agar Eha Soleha bisa menampung aspirasi dari para pelanggannya, lalu ditempelkan ke keranjang atau tas yang biasa ia bawa saat berjualan. (sk)