Label Ahok Penista Agama Masih Kuat, Ketum PPP Sarankan TKN Tak Libatkan Ahok di Kampanye Pilpres

131
PPP
Dok. PPP

PPP.OR.ID , Jakarta – Ketua Partai Persatuan Pembangunan, M Romarhumuziy meyakini label penista agama masih jadi senjata yang bisa digoreng siapapun untuk menyerang di masa kampanye Pilpres 2019. Atas dasar itu, Gus Rommy menyarankan agar Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin tidak melibatkan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Pilpres.

“Tentu saya sebagai Dewan Penasihat TKN menyampaikan gagasan pikiran itu setelah menyerap aspirasi-aspirasi di kalangan kita sendiri tentunya dan saya teruskan pada presiden agar presiden bisa meneruskan pada sejumlah pendukung,” kata Gus Rommy saat menjadi narasumber program ‘Layar Pemilu Tepercaya’ di CNN Indonesia TV, kemarin malam.

Ahok dikenal publik dekat dengan Jokowi. Keduanya merupakan pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta setelah memenangi Pilkada 2012.

Ahok terbukti menodai agama karena pidatonya yang mengutip Surat Al Maidah ayat 51 dan divonis 2 tahun sebelum bebas kemarin (24/1/2019).

Meski Ahok sudah bebas, Gus Rommy menilai label penista agama masih melekat. Label penista agama itu dinilainya berpotensi ‘digoreng’ lawan politik Jokowi di Pilpres.

Dia tidak mengungkap nama pihak yang akan menggoreng label penista agama itu. Gus Rommy hanya mengatakan gorengan ‘penista agama’ itu berpotensi jadi persoalan bagi Jokowi.

Untuk mencegah munculnya isu penista agama itu Gus Rommy menyarankan agar pendukung Ahok yang ada dalam koalisi pendukung Jokowi tidak berlebihan merayakan kebebasan Ahok, kemarin.

Gus Rommy juga ingin TKN tidak melibatkan Ahok selama masa Pilpres ini. Dia menyebutnya sebagai upaya menganalisir atau melokalisir faktor Basuki.

“Dan memang, sebaiknya faktor Basuki ini dikanalisir dan dilokalisir agar tidak menjadi pencilan yang bisa menjadi scattering, nanti jadi kemana-mana,” ujarnya.

Dewan Penasihat TKN ini mengaku sudah menyampaikan saran atau keinginannya itu dalam rapat koalisi partai pendukung Jokowi. Menurut dia, koalisi bisa memahami dan mengerti saran itu.

“Beliau juga memitigasi kemungkinan-kemungkinan itu. Karena, kan sekarang ini apapun digoreng. Istilah Pak Jokowi dalam beberapa kesempatan, ada kucing ketabrak di jalan bisa dialamatkan ini salah Pak Jokowi,” ucap Gus Rommy.

“Apalagi kalau isunya sensitif yang memang salah satu label yang dilekatkan pada Pak jokowi, yaitu persekusi ulama, anti-Islam,” imbuhnya.

Meski demikian Gus Rommy menyatakan tidak tahu persis posisi Jokowi dalam menyikapi saran melokalisir Ahok.

“Saya tidak sampai pada posisi tahu persis apa Pak Jokowi menerima gagasan saya dan menyampaikan pada yang lain, tapi paling tidak kita sudah menyampaikan itu pada rapat koalisi dan mitra koalisi bisa memahami itu. Kita kan hari ini meminimalisir faktor-faktor yang berpotensi memiliki dampak negatif,” ujarnya.

Lebih lanjut Gus Rommy mengakui isu penista agama ini masih sebatas potensi.

Dia tak bisa memastikan apakah benar isu itu akan digoreng jika Ahok dilibatkan dalam proses kontestasi politik. Namun Gus Rommy menyatakan siasat melokalisir Ahok muncul justru untuk mengantisipasi segala kemungkinan.

“Kan, kita harus bersiap dengan segala senjata yang digunakan sebelah,” pungkasnya. (Sk)