Masjid Asyuro dan Pergerakan Sarekat Islam

22

PPP.OR.ID – Masjid Cipari atau Masjid Al-Syura, adalah salah satu masjid tertua di Garut, Jawa Barat. Masjid ini berda di lingkungan Pondok Pesantren Cipari di Kampung Cipari, Desa Sukarasa, Kecamatan Pangatikan. Masjid ini dibangun pada kurun waktu 1933 – 1936 M. Masjid ini berdiri di atas tanah wakaf milik Haji Harmayn dan Kyai Haji Bustomi, yang kemudian dilimpahkan kepada pendiri pesantren.

Masjid Asyuro dibangun secara bergotong-royong oleh penduduk dan pemuda Sarekat Islam. Masjid ini bergaya arsitektur art deco, berdenah segi empat, dengan arah hadap ke timur. Arsiteknya adalah Abikusno Cokrosuryo, seorang aktivis Sarekat Islam pada masa itu.

Masjid ini menarik karena arsitekturnya berbeda dengan masjid-masjid di Indonesia pada umumnya. Biasanya masjid Jawa bergaya Jawa atau Timur Tengah dan  bergaya minimalis ini  malah bergaya arsitektur art deco. Kalo dilihat sekilas bangunan Masjid ini justru menyerupai gereja, yang membedakan adalah bengunan menara dengan puncak berbentuk kubah berwarna emas.

Keberadaan Masjid Asyuro dan Pondok Pesantren Cipari memiliki peran cukup penting dimasa pergerakan nasional. Ini karena sejarah hubungan yang sangat dekat dengan perkumpulan Sarekat Islam (SI) . Seperti yang dikutip dalam kebudayaan.kemdikbud.go.id, tempat dimana Masjid ini dididirikan yaitu kawasan Garut Timur dimana merupakan salah satu basis kuat perkumpulan Sarekat Islam.

Banyak aktivis SI dimasa itu yang berkumpul di wilayah ini, terutama di Pondok Pesantren Cipari. Masjid ini seolah menjadi salah satu dari denyut nadi pergerakan SI. Dizaman kolonial masjid ini adalah digunakan sebagai benteng pertahanan perjuangan kemerdekaan, selain juga sebagai tempat berdirinya PSII cabang garut.

Melihat realitas sejarah yang demikian , wajar saja dulu masjid ini dikelilingi dengan benteng dari tanah. Benteng tersebut dipergunakan sebagai pertahanan dalam menghadapi serangan dari pasukan DI TII di bawah pimpinan Karto Soewiryo, yang semula merupakan anggota SI. Serangan tersebut terjadi pada tahun 1948 dan 1952. Semula Karto Soewiryo bermaksud mengajak pimpinan Pondok Pesantren Cipari beserta penganutnya untuk masuk dalam perkumpulan DI TII, tetapi ditolak yang akhirnya terjadilah pertempuran di antara kedua kubu tersebut.

Saat pecah peristiwa G30/S PKI lagi-lagi masjid ini memiliki peran penting, yaitu sebgai tempat perlawanan. Pra ulama menjadikan masjid ini sebagai tempat berkumpul dan  menyusun strategi untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berbagai peristiwa diatas menujukkan bahwa masjid ini memiliki peran penting sejak zaman kolonial.(ZA)