Masjid Saka Tunggal, Khasanah Islam Nusantara

81

PPP.OR.ID – Islam telah memiliki sejarah yang panjang di Indonesia. Itu dibuktikan dengan berbagai peninggalan yang tersebar diberbagai daerah. Peninggalan yang umum bagi sebuah ajaran adalah berupa tempat ibadah. Salah satu peninggalan itu adalah Masjid Saka Tunggal di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas.

Masjid ini konon telah berdiri sajak tahun 1288 M, seperti yang terpahat dalam masjid. Masjid ini termasuk salah satu dari 7 masjid tertua di Indonesia. Menurut luas ¬†ukurannya masjid tidak terlalu besar yaitu hanya berukuran sekitar 12×18 meter saja. Warna biru mendominasi dinding masjid dengan dihiasi warna kuning.

Di dalam masjid ada peninggalan sejak didirikan yaitu berupa bedug, kenthongan dan mimbar khotib dan tiang kayu berhias pahatan dengan motif kuno. Tiang ini memiliki corak multiwarna dari hijau, merah, kuning dan putih. Tiang inilah yang disebut dengan Saka Tunggal yang kemudian dikenal menjadi nama masjid ini. Nama sebenarnya masjid ini Baitus Salam, namun orang-orang lebih akrab meneybutnya dengan masjid Saka tunggal.

Menurut cerita sejarah yang diperoleh dari cerita secara turun temurun. Masjid Saka Tunggal didirikan dua abad sebelum Demak, Kesultanan Islam pertama di Jawa pada awal abad ke-16. Pembangunan masjid tersebut terkait dengan penyebar Islam yang melakukan dakwah di pedalaman desa Cikakak, yakni Mbah Mustolih.

Dulunya masjid ini hanya berdinding anyaman bambu, tetapi sekarang sudah direnovasi dan diganti dengan tembok. Hanya beberapa bagian saja yang masih utuh, terutama tiang Saka Tunggal. Sebagai sebuah peninggalan sejarah, keneradaan masjid ini penting untuk dijaga sebagai khasanah kekayaan Islam di Nusantara.

Seabagai generasi penerus kita bisa memetik pelajaran bahwa sudah sejak zaman dahualu Islam disebarakan dengan damai. Berdirinya Masjid Saka Tunggal ini merupakan bukti bagaimana Islam berkembang dari masa-kemasa. (Dari berbagai sumber/ ZA)