Membangunkan Sahur Ala Muslim Libanon

115

PPP.OR.ID – Bulan Ramadhan selau menghadirkan berbgai hal unik termasuk cara membangunkan sahur. Tiap negara mempunyai kekhasan masing-masing untuk membangunkan sahur. Kita di Indonesia mungkin terbiasa dengan bunyi kentongan yang ditabuh para peronda, atau juga bisa terbangun mendengar panggilan sahur dari masjid setempat.

Berbeda tradisi yang ada di Libanon yang menggunakan melodi drum untuk bangun sahur. Tradisi mendentumkan drum Ramadhan dikenal juga dengan musaharati adalah kebiasaan khusus turun-temurun. Sebagaimana yang ditulis Media Online Merdeka, tradisi ini sudah berlangsung kurang lebih 200 tahun lalu dibawa oleh Sultan Ottoman asal Turki yang kala itu menduduki Tripoli, Libanon.

Menjelang sahur, para musaharati harus keliling sambil bermain drum Ramadhan untuk membangunkan muslimin dan siap-siap untuk sahur. Bentuk drum yang ditabuh lebih menyerupai gendang atau juga rebana. Musaharati mengitari kota Tripoli sambil menyanyikan lagu-lagu Islam dengan syair nan indah.

Membangunkan orang sahur atau musaharati di Libanon selama bulan Ramadhan menjadi pekerjaan. Meraka yang bekerja merasa terpanggil untuk melestarikan sebuah tradisi, bukan semata-mata  bekerja mencari uang. Bagi mereka Musaharati sudah menjadi bagian hidup dari dirinya dan rekan-rekan lain. Mereka sudah terkenal sebagai Sang Musaharati.

Teknologi yang berkembangan begitu cepat sekarang ini, tidak bisa menggantikan dan menggeser kegiatan musaharati. Masyarakat Libanon merasa Ramadhan tidak akan lengkap tanpa tradisi bangun sahur mereka.

Walaupun musaharati ini sangat bermakna bagi umat Muslimin, terlebih lagi warga Libanon, dukungan baik dari pemerintah kota atau tokoh politik diorasakan masih sangat minim. Namun hal ini tidak menyurutkan semangat musaharati untuk menggelar konser dadakan di sudut jalan kota atau juga di depan rumah warga. (Dari berbagai sumber/ ZA)