Menilik Kembali Moral Masyarakat Kita

289

PPP.OR.ID – Beberapa waktu kemarin publik terbelalak atas kasus pembakaran manusia hidup-hidup. Kejadian ini menimpa Muhammad Alzah, seorang tukang service amplifier yang dituduh mencuri di Kabupaten Bekasi. Peristiwa ini tentu membuat banyak orang terenyuh miris dengan kelakuan luarbisa tidak berperikemanusiaan orang-orang yang memukuli dan membakar almarhum. Terlepas dari berbagai tuduhan yang dialamatkan kepada korban, bagaimanapun tidakan pembakaran tidaklah dibenarkan di negara hukum seperti Indonesia.

Berkaca dalam sejarah, Indonesia merupakan degara dengan akar sejarah dan budaya luhur. Masyaraktnya dikenal memiliki sikap ramah dan murah senyum. Budaya adiluhung Indonesia itu termaktub dalam Pancasila sebagai falsafah bangsa. Sila ke dua “Kemanusiaan yang adil dan beradab” merupakan bukti dari komitmen bangsa ini untuk memberi ruang dan tempat khusus bagi kemanusiaan, serta menjungjung tinggi keadilan dan mendudukkan segala persoalan didepan hukum.

Kemerdekaan Indonesia yang diperoleh dengan mengorbankan darah dan nyawa seharusnya dapat diisi dengan hal-hal baik. Maka dari itu sikap hidup, keputusan dan tindakan bangsa  masyarakat Indonesia seharusnya selalu dilandasi oleh nilai-nilai budaya, terutama norma sosial dan moral.

Wajah Indonesia sebagai negara yang memiliki akar budaya luhur tampaknya tengah mengalami pergeseran. Berbagai kasus persekusi dan pengeroyokan terhadap seseorang semakin sering kita jumpai. Ironis rasanya dalam keseharian kita banyak menemukan kejadian dan peristiwa melanggar nilai kemanusiaan dan keadilan. Permusuhan dan pertengkaran seolah menjadi hal yang dianggap biasa, padahal seharusnya tidak demikian.

Sebagai manusia Indonesia kita memiliki tanggung jawab bersama untuk menyusun kembali moral ketimuran kita yang belakakang tercecer oleh adanya kasus-kasus kekerasan. Jika kita berharap dimasa depan bangsa ini dapat menjadi bangsa yang besar dan menghargai kemanusiaan, mulai sekarang kita semua harus memberi contoh baik untuk generasi penerus. Kita juga harus menyusun strategi dan jalan untuk mengembalikan moral luhur masyarakat.

Pertama, lingkungan keluarga merupakan tempat utama untuk menyulam moral bangsa yang tengah terkoyak. Sebab keluargalah yang dapat menjadi pengawas dan pengontrol utama atas segala aktivitas anggota keluarga. Jika pergaulan dalam keluarga baik besar kemungkinan dilingkungan lebih luas akan baik juga. Ini merupakan rumus umum yang penting untuk dipahami dan dilakasanakan dalam keseharian.

Kedua, Kita harus pandai mengelola emosi.  Mengelola emosi merupakan hal penting agar bisa disalurkan menjadi energy positif. Jika emosi tidak bisa dikelola dan dimanage dengan baik imbasnya adalah tumpah dijalanan seperti yang kita saksikan akhir-akhir ini. Ketiga, pemerintah melalui penegak hukum harus dijalankan secara adil,  setara dan berperikemanusian. Untuk para pelanggar aturan hukum harus memberikan efek jera, dengan begitu tidak akan ada lagi alasan untuk main hakim sendiri.

Jika tiga hal tersebut dapat dijalankan, upaya menyulam moral masyarakat menjadi kain yang bisa menjadi baju dan alas dalam pergaulan masyarakat akan terwujud. Hari ini kita tidak boleh mengalah pada keburukan dan kabaikan harus diperjuangkan tanpa boleh ditawar. Semoga kita bersama mampu menjadi penebar kebaikan bagi sesama.