Mewujudkan Persatuan Umat Islam Ala M. Natsir

98

PPP.OR.ID – Mohammad Natsir merupakan seorang ulama, politisi, dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Kiprah dan sumbangsih beliua bagi bangsa dan umat Islam sangat besar. Pemikirannya pun sampai sekarang masih relevan untuk dibahas serta dijadikan acuan. Dalam sebuah bukunya yang berjudul “Mempersatukan Umat Islam” beliau telah mengulas pandangan dan gagasannya menganai pentingnya persatuan umat Islam.

Banyak orang menilai bahwa banyaknya oraganisasi adalah penyebab munculnya perpecahan. Menurut M. Natsir tidak demikian adanya, oraganisai tidak menghalangi umat Islam untuk bersatu. Apalagi jika melihat keadaan geografis dan sosial budaya Indonesia yang sangat beragam. Wajar saja kalau organisasi yang berdiri cukup banyak.

Menurut M. Natsir persatuan dimulai dari adanya keimanan. Beliau mendasarkan pandangannya itu pada  firman Allah “innamal mu’minuuna Ikhwatun” bahwa sesungguhnya orang beriman itu bersaudara. Landasan tersebut sesunguhnya merupakan sebuah isyarat atau acuan kenapa umat Islam harus bersatu. Kesadaran akan pentingya persatuan ini sebenarnya sudah ada dalam benak umat Islam, ini mengingat kondisi kemunduran yang dialami oleh Islam sekarang ini.

Pentingnya persatuan bagi umat Islam kemudian banyak diterjemahkan dalam berbagai media dan bentuk. Mulai dari organisasi kemasayaraktan, dakwah dan sosial politik. Bahkan ada yang tersesat dalam penafsiran mengarah pada kekerasan dan perbuatan radikal. Ketersesatan penafisran ini justru merugikan dan membuat umat Islam terceraiberai. Ketersesatan ini kalau dilihat dari pandangan M. Natsir terjadi karena tidak menggunakan hati.

Persatuan bukan soal kecerdasan atau penguasaan terhadap ilmu, bukan juga soal harta dan materi tetapi soal kemauan hati. Hati ini menjadi semacam kompas penunjuk arah menuju sebuah persatuan agar tidak tersesat.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan menurut M. Natsir demi mewujudkan persatuan. Pertama, Para pemimpin Islam harus intropeksi untuk menemukan faktor penyebab perpecahan dan  segera menanggulanginya. Kedua, masing-masing harus mau menyambungkan kembali tali ukuwah antar berbagai pemimpinan. Kemudian merawatnya agar tidak putus kembali, segala perbedaan pendapat yang muncul harus diterima meskipun pasti ada pendapat yang tidak bisa diterima sepanuhnya. Ketiga, dengan menyambungya tali ukuwah tersebut, kemungkian untuk dialog antar kelompok dan golongan lebih terbuka sehingga meminimalisir adanya kesalahfahaman. (ZA)