Model Dakwah Pendidikan Wali Songo

145

PPP.OR.ID – Wali Songo memiliki peran sangat penting dalam penyebaran Islam di Nusantara, karena melalui merekalah ajaran agama Islam dapat diterima dan menyebar begitu cepat. Metode dakwah yang digunakan oleh Wali Songo lebih terkesan adaptif dengan mempertimbangkan betul keadaan masyarakat. Hal tersebut menjadi salah satu faktor utama kenapa Islam dapat diterima masyarakat Nusantara masa itu.

Pendidikan menjadi salah satu jalan dakwah yang ditempuh oleh Wali Songo dengan mengembangkan pendidikan model dukuh, asrama, dan padepokan dalam bentuk pesantren-pesantren, pesulukan-pesulukan, peguron-peguron. Selain itu juga model pendidkan terbuka semisal tajuk, langgar, masjid-masjid dan permainan anak-anak. Daya kreatifitas Wali Songo untuk mewujudkan model pendidikan tersebut sangatlah besar.  Sebagaimana pendapat yang dikemukakan Zaini Achmad Syis bahwa model pendidikan Islam yang sampai sekarang masih betahan yaitu pesantren, merupakan gubahan dari model pendidikan biara dan asrama peninggalan Hindu-Budha.

Proses Islamisasi Wali Songo melalui jalan pendidikan diatas membuahkan hasil yangs sangat signifikan. Para guru sufi dalam lembaga Wali Songo memformulasikan nilai-nilai sosiokultural religius yang dianut oleh masyarakat Syiwa-Buddha dengan nilai-nilai Islam. Formulasi yang dilakukan oleh para sufi tidak hanya berhenti dalam hal-hal formal saja namun juga meliputi berbagai aspek baik berupa meteri pengajaran, tata tertib dan tatakrama murid kepada guru juga turut dilakukan.

Wali Songo melakukan dakwah melalui pendidikan dengan menyerap dan menerapkan model pendidikan yang sudah dulu ada di Nusantara. Contohnya gagasan guru bakti dalam “Silakrama” mencakup tiga (triguru), yaitu orang tua yang melahirkan (guru rupaka), guru yang mengajarkan pengetahuan rohani (gurupangajyan), dan raja (guruwisesa).  Semapai sekarang gagasan tersebut masih ada dalam masyarakat muslim Madura dengan konsep bapa-babu-guru-ratu.

Begitu kuat Wali Songo meletakkan dasar dan membangun tatanan pendidikan di Nusantara, sehingga masih bisa kita lihat sekarang. Kata santri (murid dari lembaga pendidkan pesantren) adalah adaptasi dari istilah sashtri yang bermakna orang-orang yang mempelajari kitab suci (sashtra). Model pendidikan hasil karya Wali Songo inilah yang sekarang kita sebut sebagai model pendidikan asli bangsa kita. (Disarikan dari Atlas Wali Songo/ ZA)