Nasib Memilukan Muslim Rohingya

    63

    PPP.OR.ID – Rohingya merupakan kaum minoritas Muslim yang tinggal di negara bagian Rakhine Utara (sebelumnya disebut Arakan), sebuah desa pesisir di Myanmar. Mereka menggunakan bahasa Rohingya yaitu bahasa Indo-Eropa yang mirip dengan bahasa Bengali. Ditilik dari sejarahnya Rohingya telah mendiami Rakhine sejak Abad ke 7 M, ada juga versi lain yang menyebutkan abad ke 16 M. Populasi warga Rohingya di Rakhine mencapai lebih dari 1 juta jiwa.

    Pada tahun 1982, pemerintah Myanmar mengeluarkan Undang-Undang Kewarganegaraan yang menyatakan bahwa rakyatnya adalah mereka yang mendiami dan menetap di wilayah negara tersebut dalam batas-batas modern Myanmar sebelum tahun 1823. Dengan dikeluarkannya aturan ini kelompok minoritas harus menunjukkan dokumen sebagai bukti nenek moyang mereka hidup di Myanmar. Hal tersebut membuat sulit orang-orang Rohingya karena tidak memiliki dokumen yang diakui oleh pemerintah Myanmar. Padahal kenyataannya mereka sudah mendiami Rakhine lebih dari 25 tahun sebelum 1923.

    Menurut Gregory B. Poling, pada tahun 1799 seorang ahli bedah Francis Buchanan, dengan perusahaan British East India pergi ke Myanmar dan bertemu dengan warga muslim, Mereka menyebut dirinya sebagai Rooinga atau penduduk asli Arakan. Ini menjadi bukti bahwa klaim pemerintah Myanmar yang menyatakan orang-orang Rohingya sebagai pendatang adalah sebuah kebohongan.

    Berawal dari Undang-Undang tersebut diskriminasi demi diskriminasi diterima oleh warga Rohingya. Kehidupan mereka dilematis, oleh pemerintah Myanmar mereka dianggap sebagai warga Bangladesh tetapi Bangladesh sendiri tidak merasa memiliki warga di Rakhine. Semua gerak warga Rohingya terbatasi, penganiayaan dan penghancuran pemukiman mereka terus terjadi.

    Tahun 2012 menjadi salah satu titik nadir dari ketertindasan orang-orang Rohingya. Ribuan orang tewas karena konflik dan kekerasan yang terjadi. Banyak diantara mereka nekat keluar dari Rakhine dengan berbgai cara, bahkan menyeberangi lautan, kelaparan dan meninggal ditengah laut untuk menyelematkan diri dari konflik dan penganiayaan. Diantara mereka ada yang mengarungi lautan sampai ke Aceh.

    Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melansir, per 31 Agustus 2017 melansir, sekitar 38 ribu warga etnis Rohingya terusir dari tempat tinggalnya dan menyebrang ke Bangladesh menghindari operasi militer yang dilakukan Myanmar. Chris Lewa seorang direktur The Arakan Project (Lembaga Kemanusian yang bekerja dengan Komunitas Rohingya) menyebutkan militer telah membunuh 130 warga sipil etnis rohingya tewas, termasuk wanita dan anak-anak.

    Para aktivis menyebutnya bahwa apa yang terjadi di Rohingya adalah  pembantaian besar-besaran (genosida). Gregory B. Poling, analis dari CSIS memberikan gambaran tentang kondisi warga muslim rohingya bahwa telah terjadi pemerkosaan, pembunuhan, pembakaran rumah serta gedung, terasing di negeri sendiri, tak memiliki kewarganegaraan, diskriminasi telah menjadi siklus kekerasan yang tak terduga.

    Sejumlah tokoh agama dan para pemimpin politik di Myanmar justru meminta agar warga muslim rohingya diusir dengan cara apapun. Mereka menggoreng isu rasis sebagai alat melanggengkan kekuasaan dan menginjak-injak kemanusiaan. Hal yang menimpa masyarakat muslim Rohingya adalah duka kemanusiaan memprihatinkan bagi dunia internasional. (Dari berbagai sumber/ ZA)