Politisi PPP: Pendidikan P4 Diusulkan Kembali Diajarkan

80

PPP.OR.ID – REMBANG – Anggota Komisi 1 Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Muhammad Arwani Thomafi mengusulkan kepada Pemerintah agar bisa kembali mengajarkan pendidikan Pedoman, Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) di setiap lembaga pendidikan di Indonesia. Ia menganggap, ajaran pendidikan P4 perlu kembali diterapkan di tengah kondisi negara seperti saat ini.

Hal tersebut diungkapkannya di depan jajaran perwakilan tokoh masyarakat, mulai dari kepala desa se Kecamatan Lasem, sejumlah pimpinan organisasi masyarakat se kecamatan Lasem,dan Camat Lasem,Harjono, di SMK Avicena Lasem, Kamis (1/6/2017) petang.

Menurutnya, pendidikan P4 sempat diterapkan oleh pihak pemerintah pada masa Orde Baru. Namun kemudian memasuki masa reformasi, sejumlah program dihapuskan termasuk program pendidikan p4 yang telah diterapkan mulai dari SD sampai SMA.

“Tidak semua program masa orde baru itu jelek. Seperti program pendidikan P4 ini, jika diterapkan pada masa saat ini akan sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Arwani menilai, perkembangan informasi melalui media sosial yang saat ini sangat mudah diakes oleh seluruh warga negara Indonesia, akan menjadi bumerang bagi negara Indonesia. Pasalnya, seringkali didapati paham-paham yang mengarah pada sikap kontra terhadap ideologi Pancasila yang bertebaran di media sosial.

“Hal semacam ini yang harusnya juga kita antisipasi. Semua orang bisa mengakses media sosial saat ini, sehingga potensi penyebaran paham radikalisme itu sangat besar,” imbuhnya.

Lebih lanjut ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bisa memerangi tindakan-tindakan yang mengancam ideologi Pancasila. Utamanya bagi jajaran aparat TNI dan Polri agar menindak tegas segala temuan paham yang menyimpang.

Sementara itu, dalam tausyiahnya, Muhammad Attabiq menyebutkan, ideologi Pancasila merupakan paham ideologi yang unik mengandung prinsip toleransi antar umat, berbeda dengan ideologi dari berbagai negara. Ia menggambarkan negara-negara di timur tengah yang mayoritas penduduknya beragama muslim, tetapi justru ideologi bangsa tidak menggambarkan ajaran islam.

“Harusnya kita berpegang pada ideologi bangsa ini yang mengandung prinsip-prinsip toleransi. Negara-negara di daerah timur tengah mengalami perpecahan dan sering perang lantaran tidak adanya prinsip toleransi antar umat,” tegasnya. (SEPUTARMURIA.com/TN)