PPP sayangkan teror bom Bekasi dan pembubaran natalan di Bandung

10

PPP.OR.OR.ID – Bahaya radikalisme ajaran agama belakangan ini kondisinya cukup mengkhawatirkan dan semakin nyata mengancam keberagaman di Indonesia. Masih adanya ancaman teror bom di Bekasi dan sikap intoleransi sekelompok orang di Bandung sangat disesalkan terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang menganut ideologi pancasila dan Bhineka Tunggal Ika ini.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy usai menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan DPW PPP Jawa Barat di Pondok Pesantren Majelis Taklim Albarkah, Desa/Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Minggu (11/12).

Maka dari itu, Maulid Nabi yang diselenggarakan PPP secara serentak di seluruh Indonesia ini selain sebagai menetapkan posisinya sebagai alat perjuangan umat dan menghidupkan nilai-nilai perjuangan Rasulullah, juga sangat tepat untuk dijadikan deradikalisme, jelas Romahurmuziy yang biasa disapa Romi itu.

Lebih lanjut ia menjelaskan, pihaknya sangat menghargai dan menghormati terkait kebebasan berekspresi yang dijamin oleh UUD 1945 dan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara kesatuan republik Indonesia ini. Akan tetapi lanjut dia, kebebasan berekspresi di tengah keberagaman ini jangan dimanfaatkan untuk memaksakan kepentingan kelompok ajaran agama tertentu.

Meski bukan negara yang berideologi Islam, tapi sudah jelas Indonesia itu islami dalam konteks pancasila yang islami. Maka dari itu, saya menyampaikan kepada seluruh masyarakat maupun kader PPP, jadikan momen Maulid Nabi ini sebagai kontekstualisasi ajaran Nabi Muhammad SAW di tengah kondisi kekinian, jelasnya.

Lebih lanjut ia menuturkan deradikalisasi yang tepat itu adalah dengan cara persuasif, baik melalui diskusi ataupun kegiatan positif lainnya. Tunjukan, bahwa Islam itu hadir untuk semesta alam bukan hanya sebagai semesta mukmin.

Buktikan ajaran Islam yang ramah merangkul segala perbedaan. Untuk itu, kami menyesalkan adanya pengusiran yang terjadi di Bandung. Bagaimanapun, sikap intoleransi itu dilakukan bukan oleh kelompokyang sudah established. Ini kelompok baru. Semua agama dijamin untuk mengekspresikan keragamannya, jelasnya.

Untuk tidak saling ganggu, intervensi apalagi menista. Seluruh umat Islam Indonesia untuk teguh dalam menjalankan surat keputusan bersama yang ditandatangani Menteri Agama, Menkopolkam dan Mendagri untuk tidak saling mengajak pada ajaran atau agama-agama tertentu, tandasnya. (Merdeka.com/120N)