PPP Visualisasikan Keluarga Jokowi di Harlah Lewat BCL

66
PPP
Dok. PPP

PPP.OR.ID, Jakarta – Puncak peringatan Hari Lahir Partai Persatuan Pembangunan (PPP) malam itu diselimuti kehangatan keluarga, Kamis (28/2/2019).

Lagu Ayah dari Rinto Harahap yang dibawakan The Dance Company, dan lagu Bunda dari Melly Goeslow serta Ost. Keluarga Cemara yang dinyanyikan Bunga Citra Lestari sukses membuat beberapa kader PPP berkaca-kaca hingga merinding, mengingat kembali perjuangan mereka yang tak lepas dari kehangatan keluarga.

Satu lagi visualisasi kehangatan keluarga yang hadir dalam harlah PPP ke-46 ini, yakni kehangatan keluarga Presiden RI Joko Widodo.

Sepanjang lagu bertema keluarga menggema di auditorium Ecopark Jakarta, slide kebahagiaan Jokowi dan istri beserta anak-cucu dan menantu-menantunya silih berganti menghiasi layar kaca di panggung utama. Slide dibuka dengan kehidupan dan kehangatan masa kecil Jokowi di tengah-tengah keluarga orang tuanya di Solo.

Tak terelak, pada raut wajah orang nomor satu di Indonesia itu mengembang senyum haru tatkala menyaksikan potret kebersamaannya bersama keluarga.

Begitu pula dengan tamu undangan maupun hadirin yang merupakan kader PPP, termasuk Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, menatap penuh haru dan seolah tersentuh langsung oleh kehangatan di dadanya.

Ruangan yang dominan hijau seperti warna kebanggaan partai berlambang kakbah ini pun seketika memancarkan kedamaian, membawa jiwa-jiwa yang hadir di harlah partai Islam ini kepada kehangatan keluarga.

Bicara soal keluarga dan bangsa, seperti yang diungkapkan oleh senior PPP yang sekaligus Wakil Presiden ke-9 RI, Hamzah Haz. Keluarga sangat penting dalam mendukung setiap kegiatan negara maupun pengurus partai, terutama ridha sang ibu.

PPP sengaja mengusung tema keluarga pada harlah kali ini, sebab keluarga merupakan bagian dari bangsa. Mengutip kata Ketua Umum PPP, M Romahurmuziy dalam sambutannya, bahwa bangsa adalah keluarga besar dan keluarga merupakan bangsa kecil.

Karena itu tidak akan tegak suatu bangsa, jika keluarganya hancur lebur dan binasa. Tidak akan pula mampu menghasilkan diri menjadi bangsa yang besar, jika keluarga-keluarga di negeri ini kacau balau.

Oleh sebab itu, PPP menghadirkan potret keluarga Presiden RI ke tengah suasana harlah yang bertema Membangun Keluarga Membangun Bangsa.

Sejak dikenal publik, keluarga Jokowi memang kerap mendapat sorotan mengagumkan dari berbagai media, masyarakat pun tak menampik hal itu. Kesederhanaan dan keharmonisan keluarga mantan walikota Solo itu menjadi inspirasi PPP untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya keluarga.

Visualisasi tema besar tersebut dirasa tepat untuk mengajak masyarakat ‘kembali kepada keluarga’. Karena dari keluarga akan tumbuh kasih sayang yang mengular kepada sekitar, bahkan dalam menjalankan tugas besar seperti mengemban amanah negara dan agama, berkontibusi untuk bangsa misalnya.

Seorang kepala keluarga akan merasa tenang dan fokus dalam tugasnya, ketika istri dan anak atau cucunya hidup berdampingan penuh kedamaian. Pun halnya seorang anak yang menjalankan tugas negara, tidak akan tercipta kekacauan jika keluarga dibaliknya dalam keadaan utuh—minimal mendidiknya dengan penuh cinta dan kedamaian.

Keluarga mampu memperkuat persatuan umat Islam dalam politik. PPP yang pada dasarnya dibangun sebagai bentuk estafet politik umat Islam akan membuktikan, bahwa PPP partai yang akan mempersatukan umat. Kader PPP juga dituntut mulai segera silaturahmi kepada ormas.

Silaturahmi ini diakui sebagai salah satu penguat kekuatan umat Islam. Silaturahmi sendiri telah diimplementasikan dalam keluarga sejak dini. Oleh sebab itu, ketahanan bangsa akan tercermin dalam ketahanan keluarga sebagai level paling mikro masyarakat.

Di era ini, ketahanan keluarga tengah terancam oleh beberapa hal, diantaranya adalah kemiskinan, pengangguran, pornografi dan narkoba. PPP kemudian mengapresiasi pemerintah yang telah berupaya mengurangi tingkat kemiskinan, yang dibuktikan dari menurunnya tingkat kemiskinan itu sendiri.

Pengurangan kemiskinan menurutnya akan berdampak kepada mengurangnya tingkat pengangguran. Hal ini tentu akan kembali berdampak pada kesejahteraan dan kehangatan keluarga. (sk)