Sikapi Facebook, PPP Minta UU Perlindungan Data Pengguna

55

PPP.OR.ID – Ketua Kelompok Komisi I DPR dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arwani Thomafi meminta Pemerintah untuk segera mengajukan Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Perlindungan Data dan Informasi Pribadi. Sikap tersebut disampaikan Arwani usai Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi I DPR RI dengan perwakilan Facebook Indonesia di Gedung Nusantara I DPR, 17 April.

Menurut Arwani Thomafi, RUU tersebut semakin mendesak setelah Facebook Indonesia mengakui kebocoran sejuta lebih data pengguna Facebook di Indonesia. “Sejuta lebih pengguna Facebook di Indonesia sudah terkena dampak kasus Cambridge Analytica. Tapi, Facebook juga mengakui potensial lebih banyak yang terkena dampak. Ini khan besar sekali kerugian yang dapat ditimbulkan”, terang Wakil Ketua Umum PPP itu.

Ketua Fraksi PPP MPR RI itu menjelaskan, keberadaan UU akan membuat regulasi lebih kuat. Sanksi yang tegas juga dapat diberikan kepada korporasi asing yang melanggar. Arwani mengakui Pemerintah sudah berbuat nyata dengan menerbitkan Peraturan Menteri Kominfo Nomor 20 Tahun 2016 tentang Perlindungan Data Pribadi dalam Sistem Elektronik. Namun, Peraturan Menteri tidak sekuat undang-undang.

“Undang-undang dibuat DPR selaku wakil rakyat dan Pemerintah. Perusahaan asing sebesar Facebook, Twitter, Google dan sebagainya pasti lebih patuh kepada undang-undang. Dan hanya dengan undang-undang kita dapat merumuskan sanksi pidana, tidak seperti Permen yang hanya dapat mengatur penyelesaian sengketa dan sanksi administratif”, terang Anggota DPR Dapil Jateng III tersebut.

Sebelimnya dalam RDPU Komisi I, Facebook menerangkan sumber kebocoran adalah 748 pengguna Facebook di Indonesia mengunduh aplikasi “this is your digital life”. Aplikasi ini dibuat oleh Aleksandr Kogan dalam bentuk tes kepribadian kepada para pengguna Facebook. Sesuai mekanisme kerja pertemanan di media sosial, para pengunduh berteman dengan sekitar sejuta lebih pengguna lainnya di Indonesia. Kogan tidak hanya menganalisis data untuk kepentingan akademis, tetapi membagikan data lebih dari 87 juta pengguna Facebook di seluruh dunia, salah satunya pada Cambridge Analytica untuk kepentingan bisnis dan kampanye, seperti Pilpres di Amerika Serikat. (Oky)