Suara Lantang Indonesia Untuk Kemerdekaan Palestina

383

PPP.OR.ID – Peristiwa penutupan masjid Al-Aqsa dan pemasangan kamera serta alat pendeteksi logam oleh Israel memicu kemarahan berbagai pihak. Mulai dari Negara – Negara liga Arab sampai dengan Indonesia, ini mengingat bahwa sudah sejak dulu Indonesia memiliki keterkaitan sejarah dengan Palestina. Selain itu perasaan sepenanggungan Indonesia sebagai Negara dengan penduduk muslim juga menjadi  penguat dari kepedulian akan nasib bangsa Palestina.

Negara Indonesia yang memang menghargai kebebasan dan kemerdekaan sebuah bangsa melihat Palestina sedang dizalimi oleh Israel. Indonesia sejak awal tidak mau mengakui Israel yang diproklamasikan David Ben-Gurion pada 14 Mei 1948, karena merampas tanah rakyat Palestina. Ucapan selamat dan pengakuan kemerdekaan Indonesia yang dikirimkan Presiden Israel Chaim Weizmann dan Perdana Menteri Ben Gurion tak pernah ditanggapi serius pemerintah Indonesia. Mohammad Hatta hanya mengucapkan terimakasih, namun tak menawarkan timbal-balik dalam hal pengakuan diplomatik. Sukarno juga tak menanggapi telegram ucapan selamat dari Israel.

Sejak awal, Indonesia bersikap sangat bermusuhan terhadap Israel dan menolak menjalin hubungan dengan Israel. Presiden Indonesia Soekarno mengutuk keras agresi Israel terhadap negara-negara Arab dan mendukung negara-negara Arab dalam perjuangan mereka melawan Israel.

Sewaktu Soekarno mulai menggagas Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada 1953, Indonesia dan Pakistan menolak keras diikutsertakannya Israel dalam konferensi tersebut. Keikutsertaan Israel bakal menyinggung perasaan bangsa Arab, yang kala itu masih berjuang memerdekakan diri. Sementara Israel adalah bagian dari imperialis yang hendak dienyahkan Sukarno dan pemimpin-pemimpin dunia ketiga lainnya.

Dalam pidato pembukannya di KAA pada 1955 yang juga dihadiri pejuang Palestina Yasser Arafat, Sukarno menyatakan bahwa kolonialisme belum mati, hanya berubah bentuknya. Neokolonialisme itu ada di berbagai penjuru bumi, seperti Vietnam, Palestina, Aljazair, dan seterusnya.

“Imperialisme yang pada hakikatnya internasional hanya dapat dikalahkan dan ditundukkan dengan penggabungan tenaga antiimperialisme yang internasional juga,” ujar Sukarno dalam pidato hari ulangtahun Republik Indonesia ke-21 pada 17 Agustus 1966, sebagaimana dimuat dalam Revolusi Belum Selesai.

Ketika Sukarno lengser dan digantikan oleh Soeharto, suara Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina tak pernah surut. Pun begitu sampai sekarang ini yang sudah merupakan kepemimpinan kepala Negara yang ke tujuh. Indonesia tetap berkomitmen dan lantang menyuarakan dukungan kemerdekaan Pelestina serta mengutuk sikap represif Israel. (Dari berbagai sumber/ ZA)