Syekh Jumadil Kubro dan Penyebaran Islam di Jawa

302

PPP.OR.ID – Syekh Jumadil Kubro atau memiliki nama asli Syekh Sayyid Jamaluddin al-Husain al-Akbar adalah salah seorang ulama besar yang menjadi cikal bakal dalam penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Beliau  berasal dari Samarkand, Uzbekistan, Asia Tengah. Riwayat lain ada yang mengatakan Syekh Jumadil Kubro memiliki akar di Hadramaut, Yaman.Beberapa literature meyakini bahwa Syekh Jumadil Kubro sebagai keturunan ke-10 dari al-Husain, cucu dari Nabi Muhammad SAW.

Syekh Jumadil Kubro dilahirkan pada tahun 1349 M di sebuah daerah di Samarkand, Uzbekistan, Asia Tengah. Di sana beliau di didik dan dibesarkan oleh ayahanda Sayyid Zainul Khusen, sampai akhirnya beliau menikah dan dikaruniai tiga putra. Diantaranya putra-putra beliua yaitu Sayyid Ibrahim (Ibrahim As-Samarkhandi),  Maulana Iskha dan yang ketiga Sunan Aspadi yang dinikahi oleh Raja Rum.

Syekh Jumadil Kubro datang pada awalnya ke pulau Jawa bersama kedua anaknya, yaitu Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) Maulana Ibrahim Samarqandi dan Maulana Ishaq, datang ke pulau Jawa. Setelah itu mereka berpisah, Syekh Jumadil Kubro tetap berada di pulau Jawa, sedang Maulana Malik Ibrahim ke Champa, di sebelah selatan Vietnam, yang kemudian mengislamkan Kerajaan Campa. Sementara adiknya, yaitu Maulana Ishaq pergi ke Aceh dan mengislamkan Samudra Pasai.

Setelah berpisah dengan putranya kemudian beliau berdakwah bersama para ulama termasuk para putra-putri dan santrinya. Mereka menggunakan tiga kendaraan laut, sekaligus terbagi dalam tiga kelompok dakwah. Kelompok pertama, dipimpin Syeikh Jumadil Kubro memasuki tanah Jawa melalui Semarang dan singgah beberapa waktu di Demak. Selanjutnya perjalanan dilanjutnya menuju ke Majapahit dan berdiam di sebuah desa kecil yang bernama Trowulan letaknya berada di dekat kerajaan Majapahit.

Kelompok kedua, terdapat cucunya yang bernama al-Imam Ja’far Ibrahim Ibn Barkat Zainal Abidin dibantu saudaranya yakni Malik Ibrahim menuju kota Gresik. Dan kelompok ketiga, adalah jamaah yang dipimpin putranya yakni al-Imam al-Qutb Sayyid Ibrahim Asmoro Qondy menuju Tuban. Namanya masyhur dengan sebutan “Pandhito Ratu” karena beliau memperoleh Ilmu Kasyf (transparansi dan keserbajelasan ilmu/ilmu yang sulit dipahami orang awam, beliau diberi kelebihan memahaminya).

Perjalanan dakwah Syeikh Jumadil Kubro berakhir di Trowulan, Mojokerto. Beliau wafat tahun 1376 M, 15 Muharram 797 H. diperkirakan hidup diantara dua Raja Majapahit yaitu pada awal Raja Tribhuwana Wijaya Tunggadewi dan pertengahan Prabu Hayam Wuruk.

Kedatangan Syeikh Jumadil Kubro  ke Majapahit bermula dari usul yang diajukan kepada penguasa Islam di Turki (Sultan Muhammad I) untuk menyebarkan Agama Islam di wilayah Kerajaan Majapahit. Karena, pada saat itu wilayah Majapahit sangat kuat pengaruh Agama Hindunya di samping keyakinan masyarakat pada arwah leluhur dan benda-benda suci. Ada juga pendapat  yang menyatakan bahwa Islam disebarkan di Jawa untuk membuat dasar kokoh dinegeri yang kemudian menjadi negara muslim terbesar seperti sekarnag ini.

Syeikh Jumadil Kubro dikenal dekat dengan pejabat Kerajaan Majapahit Karena pengaruh beliau dalam memberikan pencerahan bekehidupan yang berperadaban. Cara beliau berdakwah yang pelan tapi pasti, menjadikan beliau amat disegani. Tak heran, bila pemakaman beliau berada diantara beberapa pejabat kerajaan Majapahit di antaranya adalah makam Tumenggung Satim Singgo Moyo, Kenconowungu, Anjasmoro, Sunana Ngudung (ayah Sunan Kudus), dan beberapa patih serta senopati yang dimakamkan bersamanya.

Syekh Jumadil Kubro tanpa disadari adalah perintis Walisongo karena beberapa diantaranya memiliki garis keturunannya. Versi sejarahnya beraneka macam, tapi salah satunya menyebutkan semasa di Maroko, Sayyid Hussein Jumadil Kubro menikah dengan anak penguasa setempat dan lahirnya Maulana Malik Ibrahim atau Maulana Malik Maghribi yang menjadi Sunan Gresik. Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan Sunan Giri (Raden Paku) adalah cucunya, sedangkan Sunan Bonang, Sunan Drajad dan Sunan Kudus adalah cicitnya. (Dari berbagai Sumber/ ZA)