Tak Khawatir Manuver PKS Dekati NU, PPP: Ulama NU Memiliki Keterbukaan

106
PPP
Partai Persatuan Pembangunan

http://PPP.OR.ID , Jakarta – PPP angkat bicara soal manuver PKS merapat ke tokoh NU. Bagi PPP yang dikenal dekat dengan NU, kultur PKS jauh berbeda.

“Syukurlah, jika akhirnya ada yang bersemi rasa cinta kepada NU dan kiai NU. Cinta NU itu memahami perjuangan dan pengorbanan kiai untuk tegaknya NKRI. Cinta yang tegak lurus untuk merah putih. Semoga tradisi sowan ke kiai dan ulama NU tidak hanya waktu pemilu saja,” ujar Waketum PPP Arwani Thomafi, Selasa (11/12).

Jika memang PKS ingin ‘menggaet’ NU, Arwani menyebut ada sejumlah hal yang harus dipahami. Salah satunya, kata Arwani, terkait kultur NU.

“PKS harus paham kultur dan tradisi NU. Organisasi NU secara kelembagaan meneguhkan semangat kembali ke khitah 1926, dimana NU berada dalam posisi tengah, tidak terlibat politik praktis,” kata dia.

“Tradisi dan kultur kiai, ulama dan NU berbeda dengan kultur PKS. Ini yang harus dipahami PKS. Kultur itu muncul dan tumbuh bersama dalam tradisi panjang pesantren di nusantara. Adapun PKS, kelahirannya berasal dari aktivis tarbiyah,” imbuh Arwani.

Arwani menyebut tradisi keagamaan antara PKS dan NU juga beda. Dia meminta PKS memahaminya.

“Implikasinya tradisi keagamaan di antara kedua organisasi tersebut berbeda, misalnya yang satu identik dengan tahlil dan ziarah kubur, yang satu sebaliknya. Kondisi ini semestinya dipahami betul elite PKS,” ucap Arwani.

Sementara itu, Sekjen PPP, Arsul Sani tak khawatir PKS mendekati NU. Dia menyebut PKS hanya sedang bersilaturahmi.

“PPP tidak melihat itu dengan khawatir. Ulama NU itu dalam hal silaturahmi memelihara ukhuwah Islamiyah memang terbuka kepada siapa pun, termasuk kepada mereka yang di PKS. Perintah mencintai ulama dari Ketua Majelis Syuro PKS itu juga hal yang normatif saja, karena mencintai ulama itu memang bagian dari ajaran Islam,” tutur Arsul.

Akan tetapi, Arsul memandang banyak hal yang berbeda antara PKS dan NU. Secara budaya atau kultur politik maupun pemahaman keagamaan, Arsul menyebut banyak kalangan PKS yang jauh dari kultur politik dan pemahaman keagamaan yang dipegang dan dipraktikkan oleh kaum nahdliyin.

“Demikian pula kaum nahdliyin itu melihat PKS tidak sekadar sebagai parpol, tapi gerakan keagamaan yang banyak dinilai akan menjadi ‘kompetitor’ ormas-ormas Islam, tidak hanya NU tetapi juga Muhammadiyah, dan lain-lain,” tukasnya. (Sk)