Tari Sufi, Kekayaan Tradisi Sufistik

492

PPP.or.id – Tari Sufi atau Whirling Devishes merupakan kesenian yang sangat dekat dengan budaya dan tradisi Islam. Tari ini dipercaya sebagai jalan mendekatkan diri pada hakikat Allah. Kesenian ini dipopulerkan oleh Jalaluddin Rumi yang memimpin kelompok Mevlevi Order. Rumi lahir pada 30 September 1273 di Balkh-Afghanistan dan wafat pada 17 Desember 1273 di Konya-Turki meninggalkan warisan pemikiran spiritual yang banyak menginspirasi umat Islam.

Istilah Sufi dalam menyebut tarian ini bukan lain adalah karena fungsi tarian ini bukan hanya sebatas sebagai hiburan, akan tetapi kecondongan untuk mendekatkan diri kepada hakikat Sang Pencipta. Tarian ini adalah bagian dari meditasi diri yang sangat erat hubungannya dengan ajaran sufistik dalam Islam. Rumi dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa sebab awal mula melakukan tarian ini ketika Mahagurunya meninggal dunia. Beliau menari dan berputar selama tiga hari untuk menumpahkan kesedihannya dan mendekatkan diri pada Tuhan.

Tari Sufi (Sema) hanya salah satu inspirasi yang ditinggalkan Rumi yang merupakan paduan warna dari tradisi, sejarah, kepercayaan, dan budaya Turki. Gerakan berputar dalam tarian ini menunjukkan proses spiritual manusia yang menggunakan akal dan cinta.

Prosesi dalam tarian sufi terbagi menjadi empat bagian. Pertama, Naat dan Taksim, merupakan bagian awal upacara dimulai dimana seorang penyanyi solo melantunkan syair-sayiat pujian kepada Rasulullah SAW. Kemudian diikuti dengan improvisasi rime dari alat music yang digunakan untuk mengiringi sebagai simbol ketidak beraturan dan keterpisahan diri dari Tuhan.

Kedua, Devri veled, Semua penari akan membungkuk satu sama lain. Ini sebagai gambaran pengakuan terhadap nafas Ilahi yang telah ditiupkan kepada kita seua sehingga menjadi ruh dan membuat kita hidup. Setalah itu semua penari akan berlutut dan melepaskan jubah hitamnya.

Setelah dua proses tersebut gerakan ketiga adalah sebagai bagian utama yaitu empat salam. Penari mulai salaing berputar, pemimpinnya berada ditengah di ibaratkan matahari. Sedangakn yang berputar mengelilinginya diumpamakan bulan. Mereka berputar dengan bertumpu pada satu kai kiri mereka, sedangkan kaki kanan dihadapkan keatas. Kaki kiri menunuk tanah mengibaratkan bahwa berdiri dibumi, sementara kaki kanan diibaratakan menghadap tuhan.

Sembari melakukan gerakan berputar, empat salam sebagai bagain utama itu adalah pertama pengenalan kepada Tuhan, kedua pengakuan keberadaan dan kebersatuan dengan tuhan, ketiga adalah ekstase penyerahan diri secara total dan keempat symbol perdamaian hati sebab  kesataun Ilahi.

Terakhir atau keempat adalah penutup atau Taksim berupa pembacaan Al-Qur’an dan do’a oelah pemimpin atau Syekh.

Tarian ini begitu kaya dan penuh dengan nilai-nilai spiritualitas ini dalam perkembangannya tersebar ke berbagai negara termasuk Indonesia. Di Indonesia bahkan sudah ada beberapa komunitas yang fokus mempelajari dan mengelar tarian ini secara rutin melaksanakan. Artinya bagi umat Islam Indonesia Tari Sufi menjadi warisan tradisi kebudayaan luhur. Tentu adalah penting menjaga tarian ini untuk terus menjaga keberadaan tarian ini, khususnya umat Islam. (ZA)