Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Akar Sejarah Awal Radikalisme dalam Islam

04 Desember 2017 - 17:16:22 | 1189

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Masalah radikalisme membayangi banyak negara hari ini, bukan hanya Indonesia mulai dari Timur Tenegah sampai Eropa juga terancam olehnya. Berbagai alasan menjadi penyebab kemunculan radikalisme yang mengancam kehidupan umat manusia. Radikalisme tersebut ada yang mengarah pada kekerasan, melukai orang bahkan berujung pembunuhan. Dilain sisi juga yang hanya melakukan transformasi gagasan melalui cara-cara persuasif demi mewujudakn tujuannya.

Radikalisme bukanlah persoalan yang bisa bersifat tunggal muncul begitu saja, namun memili faktor-faktor pemicu. Kita tidak sedang membahas semua faktor itu namun akan lebih fokus pada asal mula kemunculan radikalisme dalam Islam. Alasan kenapa lebih mengkaji Islam dalam hal ini karena stereotip yang selalu mengarahkan radikalisme pada Islam. 

Penting untuk ditelaah lebih jauh bahwa sebenarnya semua agama juga muncul kelompok radikal, kelompok Budha yang dikepalai Ashin Wirathu misalnya yang dengan sadis memutilasi 20 pelajar muslim tahun 2013. Demikian juga dengan kelompok Hindu radikalRashtriya Swayamsevak Sangh (RSS) menyerang pertemuan ibadah Minggu di Karnataka, India, 03 Maret 2012, kemudian tahun 2014 memaksa penganut Islam dan Kristen untuk masuk hindu. Juga gerakan radikal Yahudi yang dikenal dengan Gerakan Zionis melakuakn penyerangan terhadap penduduk Palestina. Demikianlah radikalisme bukan hanya lahir dari satu kelompok faham, ajaran atau bahkan agama yang sebenarnya tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan.

Kemunculan radikalisme dalam Islam sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu Jarir dan sejarawan lainnya. Hal itu bermula ketika ketegasan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib memerangi orang-orang Khawarij di Nahrawan menimbulkan dendam di kalangan para pemberontak. Ada tiga orang Khawarij berkumpul, mereka adalah Abdurrahman bin Amr atau lebih dikenal dengan Ibnu Muljam,Al-Barrak bin Abdullah dan Amr bin Bakr. Dalam perkumpulam itu mereka bercerita, mengenang teman-teman mereka di Nahrawan. Cerita itu berujung pada kesepakatan untuk melakukan pembunuhan terhadap pemimpin-peminpin Islam kala itu. Meraka menganggap para pemimpin waktu itu telah kafir teramsuk Ali bin Abu thalib sehingga menurut mereka layak dibunuh.

Ibnu Muljam memilih akan membunuh Ali bin Abu Thalib, al-Barrak bin Abdullah akan membunuh Muawiyah bin Abu Sufyan dan Amr bin Bakr akan menghabisi Amr bin al-Ash. Meraka kemudian berikrar dan berjanji tidak akan mundur sampai masing-masing berhasil membunuh targetnya atau terbunuh dalam misi tersebut. Operasi pembunuhan ini akan dilaksanakan pada 17 Ramadhan 40 H. Berangkatlah menuju para target masing-masing.

Berangkat Ibnu Muljam ke Kufah dengan menyembunyikan identitasnya. Di pertengahan jalan ia bertemu dengan seorang wanita cantik, yang ayah dan kakaknya tewas oleh pasukan Ali di Nahrawan. Wanita itu bernama Qathami binti Syijnah. Ibnu Muljam mabuk cinta padanya dan mengungkapkan ingin meminangnya. Qathami mau menerima pinangan itu dengan beberapa syarat yaitu mahar tiga ribu dirham, seorang pembantu, budak wanita, dan membunuh Ali bin Abu Thalib. Ibnu Muljam menyanggupi syarat itu dengan semangat keislaman tekstual dan puritan serat didorong rasa cinta yang menggebu.

Ibnu Muljam dikenal sebagai seorang muslim yang digambarkan oleh sejarawan Islam, Adz-Dzahabi, sebagai sosok ahli ibadah, hafal dan ahli baca Qur'an, hingga mendapat julukan al-Muqri'. Ia terjebak pada pemahaman yang salah dan menggunakan ajaran tektual Qur’an sebagai pembenaran niatnya membunuh Ali bin Abu Thalib. Pemahaman ibn Muljam ini berdasar pada ayat; "barangsiapa yang tidak menggunakan hukum sesuai dengan apa yang diturunkan Allah (qur'an/syari'at Islam), maka mereka itulah orang-orang kafir" (QS al-Maidah: 44).

Pada tanggal 17 Ramadhan waktu subuh Ibnu Muljam menikam sayyidina Ali bin Abu Thalib. Setelah itu Ibnu Muljam berkata, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah. Bukan milikmu dan bukan milik teman-temanmu, hai Ali!” Ia membaca ayat QS Al-Baqarah, 207:“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” 

Dengan mengutip ayat ini ibn Muljam merasa bahwa tindakannya membunuh sayyidina Ali merupakan pengorbanan diri untuk mendapat ridha Allah dan menjadi hamba yang disantuni Allah. Akhirnya, sayyidina Ali bin Abu Thalib menghembuskan nafas s pada 21 Ramadhan 40 H setelah terkena senjata Ibnu Muljam yang dilumuri racun. Ibnu Muljam sendiri ditangkap dan dibunuh

Di tempat lain, Al-Barrak menyabet Muawiyah yang sedang mengimami shalat subuh. Muawiyah terluka. Tapi serangan itu tak sampai membunuhnya. Sementara Amr bin Bakr salah dalam targetnya. Pada hari itu, Amr tidak bisa mengimami shalat karena sedang diare. Imam penggantinya, Kharijah bin Abu Habib pun terbunuh. Ketiga Khawarij ini berhasil ditangkap dan dihukum mati.

Kemunculan radikalisme dizaman sahabat ini dpat menjadi pelajaran bahwa sejatinya tindak kekerasan dan intolerana adalah karena paham yang salah. Teks-teks kitab suci dipahami dengan keliru, agama yang seharusnya mengajarkan cinta dan kasih saying menjadi berwajah bengis dan keras. Fenomena tororisme akhir-akhir ini juga perlu untuk segera disikapi demi mencegah kesalahan paham ini berlanjut. Islam sejatinya tidak pernah mengajarkan kekkerasan, karena Islam sendiri artinya adalah keselamatan dan kedamaian. Mari dengunggkan dan bumikan Islam Rahmatan Lil Alamin sebagai wajah Islam Indonesia. Harapan bagi Islam dunia yanga damai dimasa depan. (ZA)





Login Member

Kumpulan Rubrik



Rubrik Hukum
       Konsultasi Hukum
       Pos Pengaduan Publik
Rubrik Agama
       Hikmah
       Kajian Kitab
       Khazanah
       Khotbah
       Tokoh Tokoh Islam
       Konsultasi Agama
       Doa Harian
       Humor
       Kabar Islam
Rubrik Organisasi
       KTA Online
       Konsultasi Organisasi
Rubrik Seni
       Film
       Musik
       Acting
Ruang Usaha
DPLN (LN)
Bela Negara
Teknologi Tepat Guna
Hijabers dan Fashionista
Petiga TV