Logo PPP

DEWAN PENGURUS PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Bakar Batu, Media Pererat Silaturahmi Muslim Papua

05 September 2017 - 22:23:21

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Begitu kita mendengar orang menyebutkan tradisi bakar batu pasti pikiran kaita lansung tertuju pada masyarakat Indonesia timur yaitu Papua. Tradisi itu merupakan adat khas dan sakral sehingga tidak mungkin dilepaskan dari kehidupan mereka. Bakar batu menjadi media berkumpul dan bersilaturahim dengan sanak, saudara, krabat biasanya untuk menyambut kelahiran, perkawinan adat dan penobatan kepala suku.

Umumnya dalam tradisi bakar batu yang dimasak adalah babi, berbeda dengan masayarakat muslim papua. Mereka memang tetap memegang erat tradisi bakar batu namun juga sekaligus mempertahankan akidah. Masyarakat muslim mengganti daging babi yang biasa digunakan dengan ayam agar sesuai syariat dan halal. Penyesuaian ini merupakan sebuah hal menarik, seperti tradisi yang lokal di Jawa yang bertansformasi menjadi tradisi Islam. Kalau di Jwa wajar terjadi karena wali songo yang menjadi pioneer tranformasi tradisi lokal menjadi tradisi Islam.

Melalui tradisi bakar batu masyarakat muslim Papua kita melihat bagaimana, adat tradisi tetap bisa berjalan beriringan dengan syariat Islam. Bakar batu kini bagi masayarakat muslim Papua bahkan menjadi tradisi wajib untuk menyambut bulan ramadhan.

Tradisi ini dimualai dengan empat orang bertugas menyusun batu diatas tatanan kayu yang kemudian ditutup dengan dedaunan lalu dibakar. Sebelah samping batu sebelumnya sudah disiapkan kubangan tanah. Lalu batu yang sudah dibakar disusun dalam kubangan tanah tersebut. Kemudian baru menyusun berbagai jenis makanan yang akan dibakar seperti ubi jalar, sayur, pisang, jagung dan ayam.

Susunan batu dan makanan yang dimasak biasanya berlapis-lapis. Tiap lapisan ditaruh batu panas sebab sumber panas dari batulah yang digunakan untuk memasak makanan yang disusun tadi. Lapisan paling atas kemudian ditutup rapat dan meletakkan batu panas. Setelah selang dua sampai tiga jam baru kemudian dibuka dan semua bahan makanan matang.

Setelah bahan makanan matang lalu dimakan secara bersama-sama. Disinilah silaturrahmi dan keakraban masyarakat terjalin, karean bisa sama-sama merasakan hasil kerjasama dalam proses bakar batu. Bakar batu merupakan kearifan lokal yang sangat berharga untuk terus dijaga, termasuk bagi masyarakat muslim Papua. Bukan semata karena tradisi tetapi nilai-nilai yang terkandung serta dampak  bagi kehidupan bersosial mampu merekatkan hubungan antar sesama. (Dari berbagai sumber/ ZA)





Login Member

Kumpulan Rubrik



Rubrik Hukum
       Konsultasi Hukum
       Pos Pengaduan Publik
Rubrik Agama
       Hikmah
       Kajian Kitab
       Khazanah
       Khotbah
       Tokoh Tokoh Islam
       Konsultasi Agama
       Doa Harian
       Humor
       Kabar Islam
Rubrik Organisasi
       KTA Online
       Konsultasi Organisasi
Rubrik Seni
       Film
       Musik
       Acting
Ruang Usaha
DPLN (LN)
Bela Negara
Teknologi Tepat Guna
Hijabers dan Fashionista
Petiga TV